Cermin

Cermin adalah sahabat kita
Ia adalah sosok yang netral, apa adanya, tak beragenda
Siapapun yang menampakkan wajahnya di depannya sering tak mau bergeming…
Memandang wajah diri yang kusam, muram, juga ceria dan merona
Ia tak pernah berontak, pun meronta, ia tetap tersenyum, ramah

Cermin adalah pahlawan
Tanpa tanda jasa, ia setia menjaga kita saat tidur, maupun pagi ketika kita terjaga, bahkan beranjak malam kembali
Ia senantiasa mendampingi kita tanpa pamrih, dari kecil hingga ajalpun tiba

Cermin adalah pembela kebenaran
Saat kita geram, marah, suka menyalahkan orang lain
Iapun tercengang, sedih dan terluka

Ia serasa ingin berteriak, ketika melihat kita tidak bisa menilai diri
Ketika kita suka mencela, mencemooh, mengkritik, bahkan memfitnah yang lain…

Sang cerminpun berduka
Ia malu, karena keberadaannya diingkari
Bukankah ia ada untuk menunjukkan kemanusiaan kita yang sejati? Keotentikan kita? Insan yang penuh kelemahan, keangkuhan, dan kekurangan ini?

Ya, ia ada untuk menolong kita berkaca, melihat ke dalam diri, memahami jati diri kita yang sesungguhnya

Mari bercermin selagi ia masih ada…

 

Surabaya, 27 Juli 2014

Andi Oktavian Santoso