Kids Expressions Part 1

Standard

Kids expressions Beberapa waktu yang lalu, kami sekeluarga mengunjungi kota Kudus dan menginap di hotel King milik rekan kami Tris dan Lala. Dan ketika anak-anak kami melihat lemari pakaian yang simple dan bergaya minimalis, alhasil mereka langsung buru-buru dengan ide kreatif mereka berpose demikian. Hati kami berbunga-bunga melihat wajah-wajah fotogenik mereka, cantiknya kalian, daddy and mommy love you Phoebe and Chloe:) Love life live love!

Christopher Andios (22 Juni 2013)

Benih Kasih untuk Pdt. Dwi Tjahjono

Standard

IMG_0385

Pendeta Dwi Tjahjono adalah hamba Tuhan GKMI Surabaya, yang telah melayani Tuhan dengan setia, di beberapa jemaat, termasuk di Jember, GKMI Kudus, dan GKMI Surabaya. Beliau juga adalah ketua PGMW V dan aktif dalam berbagai forum di PGIW Jatim, PGI Surabaya, BAMAG, dan juga salah satu Hamba Tuhan yang merintis SEED Community di Surabaya barat.

Saat ini beliau sedang sakit di RS Telogorejo Semarang, dimana beberapa waktu lalu sempat dirawat di RS William Booth Surabaya selama 8 hari. Setelah keluar dari RS, beliau kemudian dibawa ke RS Mardi Rahayu Kudus untuk perawatan paru-paru lebih jauh. Ternyata dokter disana menyarankan agar beliau ditangani jantungnya, dimana ada penyumbatan, oleh sebab itulah Pdt. Dwi Tjahjono saat ini berada di RS Telogorejo Semarang untuk ditangani lebih lanjut.

Oleh karena kebutuhan biaya yang diperkerkirakan cukup besar, maka untuk meringankan beban kebutuhan tersebut, kami berinisiatif untuk membuat kampanye Benih Kasih untuk Pdt. Dwi Tjahjono ini guna mendukung Saudara kita terkasih tersebut. Semoga peran serta Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian dapat memperingan beban keluarga hamba Tuhan ini. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Sang Pencipta Kehidupan.

Untuk Bapak/Ibu/Saudara/i yang terbeban untuk mendukung proses pengobatan hingga pemulihan Pendeta Dwi Tjahjono,  dapat langsung mengirimkan dukungannya ke rekening berikut:

BCA 031 116 0388 a/n Immanuel Dwi Tjahjono

Terima kasih atas dukungan doa, dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i dalam meringankan beban keluarga Pdt. Dwi Tjahjono, biarlah Allah Sang Pemelihara Kehidupan memberkati Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian.

Bapak/Ibu/Saudara/i juga kami undang untuk memberikan ucapan kata-kata dorongan dan doa dan bisa dikirimkan ke HP Pdt. Dwi Tjahjono yang akan diterima oleh Ibu Pdt. Dwi Tjahjono di nomor berikut: 0818584068.

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19)”

Terima kasih untuk dukungan Bapak/Ibu/Saudara/i, salam persaudaraan dalam Kristus!

Christopher Andios

on behalf of SEED Community

Planting people, planting family, planting community

SEED COMM-01

The Going GOD

Standard

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20)

100_4052

Berbicara tentang pergi, saya teringat sebuah cerita perjalanan yang pernah saya alami. Tanggal 12 Mei 2012 yl, saya berangkat ke Jakarta dengan tujuan mengikuti Global Mission Fellowship di Swiss via Qatar Airways. Setelah melewati beberapa pergumulan dari mengurus visa di Kedutaan, akhirnya tiba hari keberangkatan tersebut.

Ketika pertama kali saya menerima tiket penerbangan, dengan penuh percaya diri saya membaca jadwal keberangkatan pada pukul 12.10, dan tanpa berpikir panjang saya mengasumsikan bahwa itu adalah waktu Indonesia bagian barat, alias jam 12.10 WIB siang.

Sesampai di Jakarta saya sempat transit dan menginap sehari sebelumnya, tanggal 11, dengan harapan keesokan harinya saya akan berangkat tanggal 12-05-2012 jam 12.10. Well, tidak punya firasat apapun akhirnya dengan penuh percaya diri, saya menuju Terminal Internasional di Soekarno Hatta, dan mencari counter check in Qatar Airways. Karena saya datang lebih awal maka dengan santainya saya menunggu dan menunggu…

Namun, lama kemudian saya segera tersadar, ternyata konter itu kosong dan saya tidak melihat petugas check in dan penumpang yang muncul… Hati saya mulai bertanya-tanya: “what’s going on here?”, “jangan-jangan saya salah jadwal?”

Singkat cerita saya segera menuju kantor Qatar Airways dan menanyakan kepada petugas disana tentang jadwal yang sebenarnya, dan dugaan saya benar…. Mereka bilang, “Anda ketinggalan pesawat pak!! Pesawat Bapak sudah terbang tadi pukul 00.10 WIB, dini hari….” Ufff…. hati saya lemas, dan cukup terkejut….

Lalu saya mencoba untuk bertanya lebih jauh, kira-kira apa yang bisa saya lakukan? Petugas itu menyarankan saya menghubungi kantor Qatar Airways yang ada di bandara, dan ternyata saya cek ke bawah, kantor tersebut tutup. Saya semakin gelisah, perjalanan yang telah saya rencanakan, tiba-tiba serasa lenyap ditelan waktu…

Saya berhenti dan terdiam sejenak, mencoba untuk berpikir dan mencari solusi, saya sempat menghubungi isteri saya dan saya katakan, “saya ketinggalan pesawat!!!” dan isteripun tak kalah terkejut.

Tapi ternyata, di dalam situasi tidak menentu, saya mencoba menelepon 108 dan menanyakan apakah ada kantor Qatar Airways selain di airport, dan tenyata: ADA!!! Sayapun bergegas menelepon dan puji Tuhan, petugas di kantor itu menjawab dengan ramahnya, dan singkat cerita saya menceritakan tentang semua situasi yang saya alami.

Sayapun menanyakan apakah ada penerbangan selanjutnya… dan ternyata: ADA!!! Wow, praise God!, saya sedikit senang, namun masalah tidak langsung selesai begitu saja, petugas itu minta saya menunggu karena mereka akan menanyakan ke bagian issued tiket yang kebetulan dibeli di US, dan saya diminta menunggu, dan akhirnya sayapun menunggu…

Di dalam keheningan, di dalam kegelisahan, di dalam ketidakpastian apakah saya jadi pergi dan berangkat mengikuti konferensi itu? Sayapun teringat dan terinspirasi lagu dari Chris Tomlin yang berjudul I will follow You, dimana di bagian reff berkata demikian:

“Where You go I’ ll go, where You stay I’ ll stay, when You move I’ ll move

I will follow You…”

So, siang hari itu di bandara Soekarno Hatta, saya menyerahkan situasi saya kepadaNya, dan saya dapat merasakan ketenangan batin, ketika saya menyerahkan seluruh situasi tersebut kepadaNya. Ya, hidup saya hanyalah sebuah perjalanan di dalam mengikutiNya, mengikutiNya kemanapun Dia pergi dan berdiam di kala Dia berdiam.

Dan kisah ini belum berhenti sampai disini…

Oleh kemurahanNya, saya akhirnya dapat berangkat dengan pesawat selanjutnya dan sayapun dapat menghadiri konferensi yang sangat memberkati hidup saya dan ada satu kalimat yang jelas menginspirasi saya di salah satu sesi di pertemuan itu, bahwa Allah adalah Allah yang senantiasa pergi, God is the Going GOD, Allah yang kita miliki adalah Allah yang tidak hanya tinggal diam dan tidak pernah terlibat di dalam kehidupan kita, Dia adalah Allah yang senantiasa pergi dan berjalan bersama kita, melewati segala tantangan, perjuangan dan pergulatan hidup di dalam perziarahan hidup kita di dunia ini.

Saya belajar dari peristiwa ini, bahwa ketika kita mengikuti agenda perjalanan Allah di tengah-tengah dunia ini, maka kita tidak perlu kuatir, karena Sang Nahkoda Kehidupan kita, sangat menguasai rute-rute perjalanan yang harus kita tempuh. Allah, di dalam Kristus, adalah Sang Pilot, yang tahu persis kemana akan membawa kita. Yohanes 14: 2-3, “Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada.”  Ayat 6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Permasalahannya adalah: apakah kita sudah siap pergi bersamaNya, apakah kita sudah menyiapkan passport dan tiket kita? Dan memastikan bahwa tiket kita sudah benar?

Yes, He is the Going God, He is going where He wants to show His love to the people in need, He is always going where He wants to show His mercy. He is going to finish His plan, He is the Beginning and the End, He is the Alpha and the Omega.

Will you go wherever He goes?

Note: 2/3 dari kata GOD, dari depan adalah GO, artinya pergi, dan dari belakang: DO: artinya lakukan. So, maukah kita pergi? Karena justru ketika kita pergi, dan taat, kita akan melihat Tuhan lebih lagi, mau? Buktikan sendiri:)

Salam perjalanan!

Kutisari, 30 Maret 2013

Christopher Andios

Apakah Anda Calon Pemimpin Masa Depan Dunia?

Standard

Tanggal 31 Oktober 2011, dunia merayakan sebuah era baru dimana jumlah penduduk dunia telah mencapai angka 7 miliar. Bayangkan, Anda dan saya kini harus berbagi hidup dengan 6.999.999.999 manusia lain di planet bumi tempat kita bernafas, bekerja, bersekolah, dan bersosialisasi.

Dunia tempat kita berpijak hari ini telah mengalami perubahan yang sedemikian besar. Beberapa waktu yang lalu, negara bagian Pennsylvania di Amerika Serikat dilanda salju yang terlalu dini, hal ini jarang sekali terjadi. Dan di kota Surabaya suhu mencapai hampir 42 derajat celcius. Sebuah kondisi cuaca yang sangat ekstrim. Ada apa dengan bumi kita?

Bagaimana dengan “suhu” ekonomi dan politik di tatanan global maupun lokal? Tidak jauh berbeda dengan fenomena global warming yang melanda hampir seluruh penduduk bumi. Situasi krisis ekonomi global di negara-negara Eropa khususnya Yunani, tempat penghasil para filsuf leluhur dunia, kini tengah mengancam krisis domino di negara-negara Eropa lainnya.

Jikalau situasi ini tidak segera ditangani, tidak mustahil dapat membawa dampak negatif yang meluas bagi situasi ekonomi global. Di Indonesia sendiri, realitas permasalahan korupsi, ketidakadilan, terorisme, konflik horizontal, seolah-olah terus menjadi momok yang perlu dihadapi oleh para pemimpin negeri ini.

Krisis Kepemimpinan Global                                                                      

Krisis ekonomi, politik, sosial, perubahan cuaca, hanyalah sebagian kecil dari sebuah fenomena gunung es realitas krisis multidimensi yang sangat besar yang tidak terlihat. Bagi saya, salah satu krisis yang sangat memprihatinkan adalah krisis kepemimpinan global. Dunia dengan perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang, membutuhkan figur pemimpin-pemimpin yang tangguh sebagai orang-orang yang mampu memimpin perubahan di abad yang sangat kritis ini.

Namun, fakta membuktikan bahwa, para pemimpin-pemimpin dunia hari inipun seolah-olah kalang kabut, banyak yang kehilangan arah, visi dan kemampuan untuk menjawab tantangan perubahan zaman yang sedemkian kompleks, bahkan yang lebih parah banyak yang tersandung masalah-masalah amoral: skandal seks, skandal korupsi, tertangkap karena narkoba dll. Apa kriteria pemimpin yang mumpuni di zaman seperti ini? Figur seperti apakah yang mampu menjawab tantangan global perubahan zaman hari-hari ini atau esok?

Karakter, Kharisma, Kompetensi

Dalam Kisah Daniel pasal 1:1, tercatat, sebuah narasi yang sangat menarik, dimana pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Bahkan Tuhan, menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Dan perkakas-perkakas itu di bawa ke tanah Sinear, ke dalam perbendaharaan dewanya (ayat 2).

Ini adalah sebuah ironi dan kisah yang sangat tidak mengenakkan bagi kaum pilihan Allah, Israel. Mereka dikepung, dijajah, dijarah, dan dibuang ke tempat pembuangan selama kurang lebih 70 tahun. Sebuah kenyataan pahit yang sungguh di luar dugaan bangsa Israel.

Bagaimana mungkin bangsa pilihan Allah, harus mengalami realitas seperti ini? Diperlakukan tidak adil, dianiaya, dipermalukan? Tidakkah Allah seharusnya di pihak mereka? Menyelamatkan, dan menolong mereka keluar dari kesusahan seperti itu? Agenda apakah yang kira-kira sedang dikerjakan Allah melalui peristiwa krisis yang besar tersebut?

Kisah ini, berlanjut dengan perintah raja kepada Aspenas kepala istananya,untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yaitu orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja…

Mereka adalah Daniel, Sadrakh, Mesach dan Abednego. Mereka kemudian dilatih selama 3 tahun di dalam Nebukadnezar School of Leadership atau Padepokan Nebukadnezar (ayat 3-5) untuk kemudian dipekerjakan oleh raja. Sungguh menarik! Sejarah mencatat, bahwa para pemimpin besar dunia senantiasa lahir dari sebuah krisis yang besar.

John F. Kennedy (presiden ke-35 Amerika Serikat) pernah berkata bahwa ada tafsiran yang begitu menarik dari istilah “krisis”. Ia berkata, “apabila kita menulis kata “krisis” dalam bahasa China, ia terdiri dari dua karakter yaitu wei dan ji. Karakter wei berarti “bahaya” dan ji berarti “kesempatan”.

Dari kisah ini kita belajar bahwa Allah justru memakai situasi krisis multidimensi yang dialami bangsa Israel menjadi sebuah proses penggodokkan untuk menghasilkan para pemimpin generasi masa depan Kerajaan Allah yang mumpuni (tangguh).

Prof. Eddie Gibss dalam bukunya Kepemimpinan Gereja Masa Mendatang (Jakarta, BPK, 2010) memaparkan tiga karakteristik penting bagi para pemimpin masa depan dunia yang sanggup menjawab tantangan zaman yaitu: pemimpin yang memiliki karakter, kharisma, dan kompetensi. Ketiga karakteristik ini adalah kombinasi mutlak yang dibutuhkan oleh para pemimpin masa depan yang akan memimpin perubahan dunia. Para pemimpin sejati justru dilahirkan dari situasi krisis: crisis creates leader.

Bagaimana dengan situasi kita di Indonesia? Apakah hari-hari ini Anda sedang berpikir mengapa bangsa ini tidak segera lepas dari semua problematika yang sangat kompleks? Mengapa kita belum menyaksikan perubahan positif yang signifikan di negara kita ini? Mengapa kita masih seringkali mengalami diskriminasi, penderitaan, bahkan penganiayaan? Mengapa seringkali kita melihat ketidakadilan masih saja terjadi?

Mengapa ada Saudara-saudari kita yang harus mengalami nasib naas menjadi korban peristiwa berdarah: Tragedi Mei 98, kerusuhan Ambon, Poso, ledakan bom Solo? “Stop Tanya Kenapa?!” Mari kita tidak lagi bertanya, mengapa ini semua harus terjadi?, dan berhenti meratapi nasib kita di Indonesia ini.

Prof. Yohanes Surya, Ph.D. dulu adalah seorang anak muda sederhana, namun memiliki mimpi dan visi yang besar walau ia lahir dari keluarga yang miskin. Ia tidak menyalahkan situasi krisis demi krisis yang dialaminya. Namun justru lewat krisis demi krisis yang dilaluinya, ia menemukan banyak peluang-peluang emas yang pada akhirnya menjadikan mimpinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang menjadi juara dunia Olimpiade Fisika menjadi kenyataan.

Ia telah merubah krisis menjadi kesempatan. Ia telah belajar untuk mengalami tempaan karakter, meningkatkan kharisma kepemimpinan, dan menjadi kompeten di bidangnya: fisika. Ia telah mengubah wajah Indonesia dan dunia.

Barack Obama, dulu adalah seorang pemuda yang berjuang dari bawah, walaupun dia keturunan African American, yang memiliki sejarah panjang menjadi warga negara kelas 2 di dalam sejarah Amerika. Ia seolah menjadi mimpi yang menjadi kenyataan yang diilhami oleh tokoh pejuang persamaan hak Martin Luther King Jr, yang berjuang menegakkan azas persamaan hak.  Obama telah memutar balikkan wajah peradaban dunia dengan mendudukkan diri sebagai the First African American President in American History. Ia berani melewati berbagai krisis dalam hidupnya, Ia adalah salah satu figur seorang pemimpin yang pantas diakui dunia.

Rekan-rekan muda, mari kita bangkit berdiri, dan mulai jeli melihat kesempatan-kesempatan emas apakah yang Tuhan sedang berikan kepada kita lewat setiap krisis yang kita alami? Mungkinkah Dia sedang membentuk karakter kita?, mungkinkah Dia sedang menempa kharisma kita?, mungkinkah Dia sedang melipatgandakan kompetensi kita sebagai calon-calon pemimpin masa depan Indonesia bahkan dunia? Maukah Anda?

Christopher Andios ©

Aku Bangga Jadi Chindonesia

Standard

Istilah Chindonesia, pertama kali saya baca dalam sebuah undangan Event Seminar yang diadakan oleh Indonesian Young Enterpreneurs (IYE!) di bawah koordinasi Bpk. Christovita Willoto yang adalah seorang pakar Public Relations di Indonesia. Memang Seminar tersebut membahas 3 kekuatan besar negara di Asia yang akan bangkit yaitu: China, India, dan Indonesia. ya, Chindonesia.

Saya sangat senang dengan istilah ini, Chindonesia. Dalam tulisan ini saya ingin mendefinisikan ulang menjadi China di Indonesia, alias Chindonesia :) Mengapa senang? Karena memang saya adalah orang China yang lahir di Indonesia. Jadi Chindonesia :) Saya masih ingat dengan jelas, masa-masa sulit menjadi orang China yang tinggal di pulau Jawa khususnya Jawa Tengah. Dimana dulu saya juga mengalami diskriminasi, “dicino-cino-ke”.

Sangat sakit rasanya, mengalami perlakuan seperti itu waktu saya kecil. Dulu saya juga bertanya-tanya mengapa saya harus mengalami perlakuan seperti ini? Namun semakin saya beranjak dewasa, semakin saya sadar bahwa pada masa itu, orang-orang China mengalami tekanan sosial dan politis, yang membuat orang-orang China justru bergerak di bidang ekonomi. Ini adalah blessings in disguise.

Saya juga teringat pada tahun 1980 di Solo terjadi peristiwa perusakan dan pembakaran terhadap beberapa toko-toko di Pecinan Solo bahkan sampai di pelosok-pelosok kampung, dimana kami harus bersembunyi untuk menyelamatkan diri. Entah mengapa, waktu itu hal seperti ini boleh terjadi? Saya hanya diam, tidak pernah bertanya-tanya, mengapa?

Dari kelas 3 SD hingga lulus SMA, saya sekolah di sekolah negeri. Dan saya sangat bersyukur boleh mengenal teman-teman dari berbagai suku, agama, dan golongan sejak saya kecil. Hal ini telah membentuk kecintaan dan kebanggan saya menjadi orang Indonesia. Saya masih ingat dengan logat bahasa Jawa halus saya (kini sudah jauh ketinggalan), saya juga suka makanan Warteg ketika kuliah di Jakarta, saya suka batik, saya suka berbagai seni dan tradisi dari Indonesia. Bahkan saya berusaha jadi orang Indonesia yang nasionalis.

Namun, realitas bahwa di dalam darah saya mengalir darah China, tidak bisa saya pungkiri, di dalam lubuk hati saya yang terdalam ada kerinduan bahwa suatu saat saya akan mengunjungi daerah leluhur saya di China. Jiwa saya juga merindukan supaya suatu saat kelak saya juga bisa fasih berbahasa China dan mengenal seluk beluk leluhur saya.

Tahun 1998, Jakarta dan beberapa kota di Indonesia mengalami Tragedi Mei, dimana terjadi peristiwa perkosaan dan kerusuhan hebat, sekali lagi sejarah mencatat bahwa ada “usaha-usaha” sistematis yang dilakukan dengan mengkambing-hitamkan orang China. Saya masih ingat seminggu kami harus berdiam diri dan ketakutan, tidak berani keluar rumah kontrakan hanya makan nasi dan indomie rebus, demi bertahan hidup. Jakarta benar-benar membara.

Apakah saya benci dan dendam dengan semua realitas ini? Tentu saja tidak! Saya justru melihat lewat semua krisis dan tekanan-tekanan yang dialami orang-orang China di Indonesia, telah mengakibatkan kebangkitan, dan ketangguhan secara mental, karakter dan moral yang kokoh, bahwa kami ingin diakui, dan dihargai sebagai bagian dari bangsa Indonesia meskipun kami orang China.

Kakek saya lahir di Indonesia, ayah saya lahir di Indonesia, dan sayapun lahir di Indonesia. Kini saya sudah punya anak yang juga lahir di Indonesia. Isteri saya orang Indonesia. Saya berbahasa Indonesia, semua sejarah hidup saya sejauh ini saya tulis di Indonesia. Kiprah, gairah dan karya saya sejauh ini saya wujudkan di Indonesia. Entah sampai kapan saya bisa bangga untuk menjadi orang China di Indonesia?

Apakah ini adalah sebuah kenaifan menyebut diri China di Indonesia? Tidakkah cukup hanya menjadi orang Indonesia saja? Atau justru tetap mengaku diri orang China? Saya sejujurnya tidak bisa memilih salah satu. Hakekat jiwa raga saya harus membuat saya mengaku: saya bangga jadi orang China yang lahir di tanah Jawa, bermata agak sipit, belajar bahasa Mandarin? Merayakan Imlek? Apakah kami egois? Apakah kami naif? Tidak cinta Indonesia?, jika kami memberi nama anak kami nama-nama China di sertifikat kelahiran anak kami?

Whatever you say, I’m here to love, to care, and to be a blessing for my beloved country Indonesia. Forever I will say, you will always be in my heart. Sampai kapanpun selama Ibu Pertiwi masih mengijinkan saya hidup, exist dan berkiprah disini, saya akan ada di sini untuk selamanya. Saya cinta Ibu Pertiwi.  Saya cinta Indonesia! Aku bangga jadi Chindonesia! Gong Xi Fat Cai!

Note: Terima kasih secara khusus kepada almarhum Bp. Gus Dur, yang telah berani mengakui bahwa ada orang-orang China yang berhak untuk hidup di Indonesia. Indonesia rumah kita bersama!

Salam Bhinekka Tunggal Ika,

Surabaya, 25 Januari 2012

Christopher Andios

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik) Book Review

Standard

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik)  adalah sebuah karya yang luar biasa yang dirumuskan dari pengalaman mengajar Homiletika Haddon W. Robinson selama kurang lebih sembilan belas tahun di Dallas Theological Seminary. Dalam bukunya kali ini, ia mencoba menyampaikan sebuah metode berkotbah yang Alkitabiah dan di dasari oleh teori-teori Homiletika yang mendalam namun disertai dengan cara-cara penerapan yang  praktis.

Robinson, sesuai dengan pengalamannya sebagai Guru Besar Homiletika, mampu menyajikan uraian-uraian yang sistematis, namun juga sederhana dalam arti sangat mudah dipahami oleh pembaca. Apalagi ia juga langsung memberikan contoh-contoh untuk menjelaskan lebih lanjut setiap poin pembahasannya.  Dalam buku ini, ia secara eksplisit juga menekankan akan “the spirit within” dari dua aspek utama dari penyampaian Firman Tuhan, yaitu: Firman Tuhan dan Pengkotbah itu sendiri.

Oleh sebab itu dalam penjelasannya, ia bukan sekedar menyampaikan metode atau bagaimana cara berkotbah yang baik itu dalam pengertian pelaksanaan kotbah itu sendiri yaitu di mimbar, namun lebih kepada proses pergumulan yang mendalam, menyeluruh terhadap Firman Tuhan yang benar-benar harus dihayati oleh Pengkotbah di dalam kehidupannya.

Buku ini menjelaskan tentang kotbah dalam pengertian kotbah ekspositori, yang memang bagi sebagian orang tidak begitu populer. Oleh sebab itu Robinson justru mencoba memberikan suatu pengantar yang sangat terperinci dan alkitabiah mengenai kotbah ekspositori, yang baginya merupakan kotbah yang berisi kebenaran Firman Tuhan yang disertai dengan otoritas ilahi.

Jadi kotbah ekspositori merupakan sebuah komunikasi yang berasal dari suatu proses pengintegrasian dari studi yang mendalam mengenai Alkitab baik secara historis, gramatikal, maupun konteks yang harus dialami dulu oleh pengkotbahnya dan kemudian baru diterapkan kepada pendengar, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Menurut Robinson, proses ini dimulai dari pemahaman akan teks dari perikop yang dipilih yang nantinya akan memberikan suatu konsep tertentu.

Konsep inilah yang menurutnya disebut konsep Alkitabiah yang kemudian harus dihayati dan diterapkan pertama oleh pengkotbah dan pada pendengar. Selanjutnya menurut Robinson, kotbah ekspositori harus difokuskan pada satu ide (ide tunggal), yaitu ide yang muncul dari proses pergumulan hidup pengkotbah bersama dengan Tuhan, yang mana akan menghasilkan suatu konsep Alkitabiah yang berkuasa untuk menegur dan menguatkan jemaat sebagai pendengar.

Oleh karenanya sangat penting bagi pengkotbah untuk mengembangkan wawasan, imajinasi dan kepekaan rohaninya sebagai sebuah proses yang dinamis. Proses ini merupakan penggabungan dari pergumulan yang erat dengan Tuhan maupun dengan menggali Alkitab dengan bantuan alat-alat yang ada (Alkitab, Leksikon, Konkordansi dll). Semua ini akan dapat dipakai Allah untuk membangkitkan ide-ide dasar dari kotbah ekspositori yang Alkitabiah tersebut.

Setelah menguraikan bagian-bagian mendasar seperti di atas, Robinson dalam bukunya ini juga menjelaskan akan kekuatan sebuah tujuan di dalam menghasilkan kotbah yang hidup.Dan setelah itu ia membahas secara teknis bagaimana membedakan jenis kotbah, bagaimana menyusun outline kotbah yang berisi dan menghidupkan. Dan pada akhirnya ia menutup penjelasannya dengan menguraikan aspek-aspek yang sangat penting dan praktis berkaitan dengan penyampaian kotbah itu sendiri yaitu di mimbar.

Pengalaman-pengalaman inilah yang pada akhirnya coba dibagikan oleh Robinson dalam buku ini. Pemahaman yang ditulis bukan dari pemahaman teori saja, namun lebih kepada sebuah perjalanan panjang seorang pendengar kotbah, dan seorang pengajar Homelitika.

Dari sisi kedalaman isi dan sistematika penulisan, serta cara penyampaian, buku ini patut diacungi jempol, karena mampu menggabungkan dengan sangat baik tentang teori-teori Homiletika yang mungkin sangat monoton dengan gaya penyampaian yang segar dan sederhana, sehingga menjadikan buku ini sangat mudah dibaca dan tidak membosankan.

Selain itu, penjelasan Robinson dalam buku ini tentu saja sangat efektif, karena  telah diuji waktu dan berdasarkan pengalaman yang kompeten di bidangnya. Oleh sebab itu sesuai dengan judulnya, Robinson telah berhasil menguraikan dengan sangat jelas, ringkas dan kompeten dalam kaitan dengan Homiletika, yaitu mampu menjadi sumber inspirasi yang dalam, sederhana dan praktis.

Dalam hal ini saya setuju dengan pendapatnya yang terdapat di dalam bagian pendahuluannya yang sangat mencerminkan suatu inti pemahaman yang ingin disampaikannya dalam kaitan dengan penerapan praktis kita sebagai pengkotbah, “Namun untuk menjadi alat yang demikian (Pemberita Firman Tuhan), pembaca perlu mempersembahkan dirinya sendiri terlebih dahulu-hidupnya, wawasannya, kedewasaannya, imajinasinya, dan dedikasinya.” (hlm.3).

Christopher Andios