Freedom and Peace

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita…” Galatia 5:1

Menarik sekali pagi ini (19-07-11), ketika saya mengikuti perbincangan di Apa Kabar Indonesia TV One, yang menampilkan sebuah dialog dengan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Bp. Jimly Asidique. Dimana beliau memulai pandangannya tentang situasi Negara ini dengan membaca sebuah puisi otokritik dengan judul: Merdeka atau Bingung? Puisi ini sendiri berbicara tentang realitas negeri ini, dimana tidak lagi bisa dibedakan antara dipenuhi “pejabat atau penjahat” (Sumber TV One).

Inti dari apa yang coba disampaikan beliau adalah, “mengapa jika bangsa Indonesia ini sudah merdeka, kok rakyat belum benar-benar merasakan dampak dari kemerdekaan kita, dan bahkan saat ini rakyat Indonesia terkesan bingung dengan arah bangsa ini, mau dibawa kemana?” Atau barangkali seperti lagu yang biasa kita dengar yang dipopulerkan oleh Armada Band, “mau dibawa kemana hubungan kita? (diganti Negara kita?)”

Well, menarik ketika kita berbicara tentang kemerdekaan dan perdamaian. Ini bagaikan sebuah koin, dengan dua sisi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Namun keduanya bukan hanya sebuah utopia, yang hanya bisa diandai-andaikan, namun harus diusahakan, diupayakan dengan semaksimal mungkin.

But, tunggu dulu, sebelum kita beranjak kesana, ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab, “apakah mungkin selama kita hidup di dunia ini, kita dapat mengalami sebuah realitas kemerdekaan dan perdamaian yang sejati?” Kalau bisa, bagaimana caranya? Kalaupun menurut Anda tidak bisa, apa kira-kira alasannya?

Bagi yang memiliki pandangan tidak bisa, mungkin kita sedang bertanya-tanya, “dimanakah kebebasan dan perdamaian itu ketika kita melihat realitas ketidakadilan dimana-mana, korupsi merajalela, peperangan, konflik antar suku-golongan, bahkan atas nama “agama” atau “keyakinan pribadi” dipertontonkan, kekejian, pembunuhan, pemerkosaan, penindasan hak azasi manusia, kerusakan lingkungan alam,  pembredelan media, diskriminasi ras, politik kambing hitam, bahkan komersialisasi agama untuk kepentingan pribadi, juga kehidupan moralitas yang acakadut, semau gue, kawin sana kawin sini bahkan dengan seribu satu alasan “rohani” lainnya, padahal jelas-jelas kebenarannya adalah bahwa manusia belum mengalami kemerdekaan atas kepentingan diri, nafsu daging dan ambisi pribadi untukku, untukku, dan untukku, demikian kata Amsal 30:15.

Dimanakah kemerdekaan dan perdamaian sejati, jikalau manusia masih “memangsa” satu dengan yang lainnya?”

Bagi yang memiliki pandangan bahwa kemerdekaan dan perdamaian yang sejati itu niscaya terjadi maka, kita dapat memaparkan fakta-fakta positif tentang dampak dari kemerdekaan dan perdamaian: transformasi hidup dan komunitas yang terjadi, perbaikan taraf kehidupan masyarakat miskin dengan pendidikan murah, kebangkitan kaum filantropi (dermawan peduli kemanusiaan) ataupun realitas munculnya kegerakkan menuju demokrasi di negara-negara tertutup seperti di jazirah Arab baru-baru ini.

Semua dunia sedang menyuarakan aura kebebasan mengemukakan pendapat, kemerdekaan dari sistem-sistem sosial yang hanya berpihak kepada yang kaya, yang empunya kuasa, kini lambat laun namun pasti mulai didobrak, diruntuhkan dengan semangat solidaritas untuk kepentingan banyak orang. Bukankah ini bukti-bukti bahwa kemerdekaan dan perdamaian yang sejati dapat kita upayakan terjadi, disini dan kini?

Revolusi Berdarah di Kalvari

Saya secara pribadi memiliki pandangan bahwa kemerdekaan yang sejati itu niscaya dapat terjadi, jikalau kita benar-benar memahami alasan yang tepat mengapa hal ini mungkin. Dan satu kebenaran yang tidak bisa kita abaikan bahwa, di sepanjang sejarah peradaban umat manusia, tidak pernah ada sebuah kemerdekaan yang gratis, yang murahan, karena semua kemerdekaan yang dapat diraih itu berbayar mahal.

Tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menyatakan diri menjadi sebuah bangsa yang merdeka, Ir. Soekarno-Hatta, membacakan butir-butir Proklamasi di hadapan seluruh rakyat Indonesia dan dunia. Namun di balik peristiwa agung dan megah tersebut, pernahkan kita memikirkan berapa banyak “liter” darah yang tercurah, darah para pahlawan Republik Indonesia yang rela menyerahkan tubuh, jiwa dan rohnya untuk merebut kemerdekaan RI dari tangan para penjajah negeri ini?

Berapa banyak air mata yang harus dicurahkan oleh para keluarga, anak, isteri, sanak para pahlawan yang kehilangan nyawanya demi menegakkan kemerdekaan Indonesia yang tercinta ini? Berapa banyak tetes keringat para pejuang lapangan demi meraih harapan dan cita-cita luhur, kemerdekaan dan perdamaian di negeri ini?

Kemerdekaan dan perdamaian adalah dua kata yang dirindukan, dicari-cari, diidamkan seluruh warga dunia. Kemerdekaan dari penjajahan, penderitaan akibat kemiskinan, perdamaian dari segala konflik, akar pahit, diskriminasi senantiasa berbayar mahal.

Martin Luther King harus ditembak mati demi memperjuangkan sebuah mimpi, melihat warga kulit hitam Amerika boleh berdiri setara dengan warga kulit putih.

Mahatma Gandhi harus meregang nyawa bahkan sebelum mimpinya akan kesetaraan hak di India boleh terjadi.

Nelson Mandela harus dipernjara puluhan tahun demi memperjuangkan persamaan hak di Afrika Selatan. Dan sejarah mencatat, seluruh tokoh-tokoh pejuang reformasi, revolusi atau perubahan dalam bentuk apapaun dengan alasan kemerdekaan dan perdamaian, harus meregang nyawa, bahkan jauh sebelum realitas kemerdekaan dan perdamaian itu sendiri terjadi.

Jauh sebelum tokoh-tokoh reformator dunia hadir, dan dicatat namanya dalam buku-buku sejarah kaum pembaharu, Nabi Yesaya telah mencatat sebuah Visi Pergerakkan Dunia untuk Pembebasan dan Perdamaian Dunia yang dicatat di dalam Yesaya 52:13- 53:1-12. Ini adalah kisah nubuatan akan lahirnya Seorang Revolusioner Pembebas Dunia, Kristus Sang Mesias yang Tersalib, Teraniaya, Terhujam, Terhukum oleh karena pemberontakkan kita, manusia yang berdosa.

Ia tidak berdosa, namun harus menanggung dosa kita, Ia tidak bersalah, namun harus diremukkan karena kesalahan kita, Ia tidak berbuat jahat, namun harus ditolak oleh Allah karena kekejian kita. Tuhan menimpakan kesalahan kita kepada diriNya, Tuhan meremukkan diriNya karena kebebalan kita, “Ia tertikam oleh karena pemberontakkan kita, Ia diremukkan oleh karena kejahatan kita…” Yesaya 53:5.

Inilah cikal bakal kegerakkan revolusi sejati sepanjang masa: Kristus mendamaikan dunia dengan Bapa melalui kematianNya, Ia memulihkan hubungan kita dengan Sang Pencipta, Ia membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut, Ia meremukkan kepala Ular oleh kematianNya di Kalvari (Kejadian 3:15). Kristus Sang Pembebas umat manusia, telah mendemontrasikan karya penyelematanNya dengan sempurna dan sekali untuk selama-lamanya. Ia telah mengalahkan kuasa musuh.

Dan Kerajaan Allah telah hadir melalui kedatanganNya di dunia. “…betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh Allah yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup? Ibrani 9:14.

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” I Petrus 1:18-19.

Inilah Revolusi Berdarah yang Membawa Kemerdekaan dan Perdamaian sejati sepanjang masa.

Karya Pembebasan dan Pendamaian itu telah diselesaikan oleh Kristus dengan final, sempurna. Oleh sebab itu, Yesus berkata, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” Yohanes 8:36. Ini adalah keyakinan kita, bahwa kemerdekaan yang sejati atas dosa, tidak tergantung pada apa yang kita upayakan, namun tergantung dari apa yang Kristus telah lakukan di Kalvari.

Ini adalah kunci memahami kemerdekaan yang sejati, juga perdamaian yang sejati. Roma 5:1, “Sebab itu kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”

Jadi satu-satunya alasan keyakinan bahwa kemerdekaan dan perdamaian yang sejati itu niscaya terjadi karena, Kristus telah memerdekakan kita dari dosa, dan Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, sehingga kita harus benar-benar menyadari bahwa kita sekarang adalah orang yang merdeka di dalam Kristus dan mengalami damai sejahtera (shalom).

Inilah rahasia kemerdekaan kita, oleh sebab itu pendiri GKMI alm. Tee Siem Tat berkata, “anugerah Tuhan itu gratis, namun tidak murahan, kita telah menerimanya dengan cuma-cuma oleh sebab itu kita harus membagikannya dengan cuma-cuma.”

 

Menjadi Agen Pembebasan dan Perdamaian

Misi pembebasan/penebusan itu telah dikerjakan dengan sempurna oleh Kristus di Kalvari, lalu apakah ini berarti tugas kita telah selesai? No! Tugas kita belum selesai, Kristus telah membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut, melalui peristiwa kematian dan kebangkitanNya, namun Ia berkata berulang kali, bahwa Ia datang untuk mendirikan Kerajaan Allah, sebuah komunitas orang-orang percaya yang memegahkan Kristus sebagai Raja, Imam dan Trasformator Sejati untuk membawa dunia kepada perubahan yang holistik kepada pemulihan sejati dunia dengan diriNya.

Dalam panggilan inilah kita dipanggil untuk terlibat aktif di dalam kegerakkan tranformasi dunia dengan menghidupi karya dan kehidupan Kristus di dalam dunia sebagai Sang Pembebas, Sang Transformator Masyarakat.

Mengapa kita harus terlibat? Karena dunia tempat dimana kita tinggal, masih merindukan Sang Pembebas itu hadir dalam kehidupan mereka secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dimana mereka mendambakan sebuah kemerdekaan dan perdamaian sejati.

Dalam bukunya The Road to Peace, Karya untuk Perdamaian dan Keadilan, Henri Nouwen, seorang tokoh pejuang kemanusiaan mengutip pandangan tokoh Spiritual Pembebasan Pater Gutiếrrez (Penulis buku A Theology of Liberation), “Dimana penindasan dan pembebasan manusia tampaknya membuat Allah tidak relevan-Allah tersaring oleh sikap acuh tak acuh kita yang begitu lama terhadap masalah-masalah tersebut-di sana harus berkembang iman dan harapan di dalam Dia yang datang untuk melenyapkan ketidakadilan dan menawarkan, dalam suatu cara yang tidak terduga, pembebasan total.” (Henri Nouwen, The Road to Peace, hlm. 245-246).

Saudara dan saya adalah Agen-agen Pembebas dan Pendamai yang dipanggil untuk terlibat di dalam karya ini. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang bebas! Ketakutan, dan belenggu dosa tidak lagi menguasai kita. Oleh sebab itu kitalah orang-orang yang tepat dan layak untuk bersama-sama Sang Reformator Dunia bergerak dari tatanan lokal tempat tinggal kita: di rumah tangga, sekolah, kampus di tempat pekerjaan (market place), di dalam masyarakat dimana kita tinggal. Dimana masih ada ketidakadilan, kita dipanggil untuk bertindak, dimana ada diskriminasi kita harus bersuara, dimana ada kezaliman kita harus merobohkannya.

Tentu semua perjuangan kita tidak dilakukan dengan kekerasan, namun dengan kekuatan kasih Kristus yang menghantarNya kepada Salib, kekuatan kasih itulah yang akan memampukan kita untuk berani menghadapi moncong-moncong senapan yang diarahkan kepada kita ketika kita harus membela yang terluka, yang terpinggirkan, yang teraniaya. Kekuatan kasih Kristuslah yang akan memberi kita keberanian untuk membebaskan para wanita-wanita muda korban perdagangan bebas wanita, bahkan dengan resiko dipukuli, ditangkap…

Kekuatan kasih Kristuslah yang akan memampukan kita untuk rela memberi waktu dan tenaga kita untuk mengajar anak-anak jalanan di sudut-sudut kota yang tidak terjangkau oleh program gereja kita… Kekuatan kasih Kristuslah yang memberi kita inspirasi untuk melayani kaum “terabaikan” para penderita kusta, HIV, gay-lesbian, pengidap Narkoba, para pecandu pornografi, para penjaja seks komersial dll.

We are the agent of change of the community surround us. We have the answer, we have the power, we have the heart for it. Now it’s time to get involved, to get dirty…, waktunya untuk menyingsingkan lengan baju kita, jas-jas kependetaan dan kemajelisan kita.

Paulus adalah orang bebas, dan dipenuhi kedamaian sejak perjumpaannya dengan Kristus secara pribadi. Sebelumnya dia terbelenggu oleh hal-hal lahiriah, kebanggaan suku, pendirian terhadap hukum Taurat, penganiaya jemaat dll (band. Filipi 3:1-6). Dia berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus Tuhanku lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.

Dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang dianugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dengan penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Filipi 3:7-10.

Kemerdekaan yang sejati akan menuntun perdamaian yang sejati, kemerdekaan meliputi: kebebasan berbicara tentang kebenaran, keadilan, dan mewujudnyatakan kasih dalam perbuatan praktis, atau praxis dimulai dari diri kita, kemudian keluarga kita, kemudian komunitas kita, bahkan bangsa kita.

Hanya orang yang benar-benar sudah bebas dan merdeka yang dapat dipakai Tuhan untuk membebaskan dan memerdekakan orang lain. Dan hanya orang-orang yang telah benar-benar mengalami perdamaian dengan Allah yang dapat menjadi pendamai-pendamai bagi dunia yang penuh dengan konflik dan pertikaian. Mari kita berdamai dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama dengan lingkungan. Sudah merdekakah kita atau masih bingung?

Merdeka! Salam Youth for Peace Movement, you and me, PEACE V :)

Christopher Andios

PS: Picture Google Images

Advertisement

2 thoughts on “Freedom and Peace

  1. wah,artikel pak andios sangat menari dan bagus untuk disimak,saya berharap hal – hal seperti ini dapat bapak sampaikan di kelas Agama..
    -NosZ,pariwisata 2011-

    • Hi Nosz thanks buat kunjungannya dan komentarnnya. Sering2 kasih komen ya, btw sudah ada beberapa tulisan baru lho, mohon dikomentari:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s