Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik) Book Review

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik)  adalah sebuah karya yang luar biasa yang dirumuskan dari pengalaman mengajar Homiletika Haddon W. Robinson selama kurang lebih sembilan belas tahun di Dallas Theological Seminary. Dalam bukunya kali ini, ia mencoba menyampaikan sebuah metode berkotbah yang Alkitabiah dan di dasari oleh teori-teori Homiletika yang mendalam namun disertai dengan cara-cara penerapan yang  praktis.

Robinson, sesuai dengan pengalamannya sebagai Guru Besar Homiletika, mampu menyajikan uraian-uraian yang sistematis, namun juga sederhana dalam arti sangat mudah dipahami oleh pembaca. Apalagi ia juga langsung memberikan contoh-contoh untuk menjelaskan lebih lanjut setiap poin pembahasannya.  Dalam buku ini, ia secara eksplisit juga menekankan akan “the spirit within” dari dua aspek utama dari penyampaian Firman Tuhan, yaitu: Firman Tuhan dan Pengkotbah itu sendiri.

Oleh sebab itu dalam penjelasannya, ia bukan sekedar menyampaikan metode atau bagaimana cara berkotbah yang baik itu dalam pengertian pelaksanaan kotbah itu sendiri yaitu di mimbar, namun lebih kepada proses pergumulan yang mendalam, menyeluruh terhadap Firman Tuhan yang benar-benar harus dihayati oleh Pengkotbah di dalam kehidupannya.

Buku ini menjelaskan tentang kotbah dalam pengertian kotbah ekspositori, yang memang bagi sebagian orang tidak begitu populer. Oleh sebab itu Robinson justru mencoba memberikan suatu pengantar yang sangat terperinci dan alkitabiah mengenai kotbah ekspositori, yang baginya merupakan kotbah yang berisi kebenaran Firman Tuhan yang disertai dengan otoritas ilahi.

Jadi kotbah ekspositori merupakan sebuah komunikasi yang berasal dari suatu proses pengintegrasian dari studi yang mendalam mengenai Alkitab baik secara historis, gramatikal, maupun konteks yang harus dialami dulu oleh pengkotbahnya dan kemudian baru diterapkan kepada pendengar, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Menurut Robinson, proses ini dimulai dari pemahaman akan teks dari perikop yang dipilih yang nantinya akan memberikan suatu konsep tertentu.

Konsep inilah yang menurutnya disebut konsep Alkitabiah yang kemudian harus dihayati dan diterapkan pertama oleh pengkotbah dan pada pendengar. Selanjutnya menurut Robinson, kotbah ekspositori harus difokuskan pada satu ide (ide tunggal), yaitu ide yang muncul dari proses pergumulan hidup pengkotbah bersama dengan Tuhan, yang mana akan menghasilkan suatu konsep Alkitabiah yang berkuasa untuk menegur dan menguatkan jemaat sebagai pendengar.

Oleh karenanya sangat penting bagi pengkotbah untuk mengembangkan wawasan, imajinasi dan kepekaan rohaninya sebagai sebuah proses yang dinamis. Proses ini merupakan penggabungan dari pergumulan yang erat dengan Tuhan maupun dengan menggali Alkitab dengan bantuan alat-alat yang ada (Alkitab, Leksikon, Konkordansi dll). Semua ini akan dapat dipakai Allah untuk membangkitkan ide-ide dasar dari kotbah ekspositori yang Alkitabiah tersebut.

Setelah menguraikan bagian-bagian mendasar seperti di atas, Robinson dalam bukunya ini juga menjelaskan akan kekuatan sebuah tujuan di dalam menghasilkan kotbah yang hidup.Dan setelah itu ia membahas secara teknis bagaimana membedakan jenis kotbah, bagaimana menyusun outline kotbah yang berisi dan menghidupkan. Dan pada akhirnya ia menutup penjelasannya dengan menguraikan aspek-aspek yang sangat penting dan praktis berkaitan dengan penyampaian kotbah itu sendiri yaitu di mimbar.

Pengalaman-pengalaman inilah yang pada akhirnya coba dibagikan oleh Robinson dalam buku ini. Pemahaman yang ditulis bukan dari pemahaman teori saja, namun lebih kepada sebuah perjalanan panjang seorang pendengar kotbah, dan seorang pengajar Homelitika.

Dari sisi kedalaman isi dan sistematika penulisan, serta cara penyampaian, buku ini patut diacungi jempol, karena mampu menggabungkan dengan sangat baik tentang teori-teori Homiletika yang mungkin sangat monoton dengan gaya penyampaian yang segar dan sederhana, sehingga menjadikan buku ini sangat mudah dibaca dan tidak membosankan.

Selain itu, penjelasan Robinson dalam buku ini tentu saja sangat efektif, karena  telah diuji waktu dan berdasarkan pengalaman yang kompeten di bidangnya. Oleh sebab itu sesuai dengan judulnya, Robinson telah berhasil menguraikan dengan sangat jelas, ringkas dan kompeten dalam kaitan dengan Homiletika, yaitu mampu menjadi sumber inspirasi yang dalam, sederhana dan praktis.

Dalam hal ini saya setuju dengan pendapatnya yang terdapat di dalam bagian pendahuluannya yang sangat mencerminkan suatu inti pemahaman yang ingin disampaikannya dalam kaitan dengan penerapan praktis kita sebagai pengkotbah, “Namun untuk menjadi alat yang demikian (Pemberita Firman Tuhan), pembaca perlu mempersembahkan dirinya sendiri terlebih dahulu-hidupnya, wawasannya, kedewasaannya, imajinasinya, dan dedikasinya.” (hlm.3).

Christopher Andios

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s