Apakah Anda Calon Pemimpin Masa Depan Dunia?

Tanggal 31 Oktober 2011, dunia merayakan sebuah era baru dimana jumlah penduduk dunia telah mencapai angka 7 miliar. Bayangkan, Anda dan saya kini harus berbagi hidup dengan 6.999.999.999 manusia lain di planet bumi tempat kita bernafas, bekerja, bersekolah, dan bersosialisasi.

Dunia tempat kita berpijak hari ini telah mengalami perubahan yang sedemikian besar. Beberapa waktu yang lalu, negara bagian Pennsylvania di Amerika Serikat dilanda salju yang terlalu dini, hal ini jarang sekali terjadi. Dan di kota Surabaya suhu mencapai hampir 42 derajat celcius. Sebuah kondisi cuaca yang sangat ekstrim. Ada apa dengan bumi kita?

Bagaimana dengan “suhu” ekonomi dan politik di tatanan global maupun lokal? Tidak jauh berbeda dengan fenomena global warming yang melanda hampir seluruh penduduk bumi. Situasi krisis ekonomi global di negara-negara Eropa khususnya Yunani, tempat penghasil para filsuf leluhur dunia, kini tengah mengancam krisis domino di negara-negara Eropa lainnya.

Jikalau situasi ini tidak segera ditangani, tidak mustahil dapat membawa dampak negatif yang meluas bagi situasi ekonomi global. Di Indonesia sendiri, realitas permasalahan korupsi, ketidakadilan, terorisme, konflik horizontal, seolah-olah terus menjadi momok yang perlu dihadapi oleh para pemimpin negeri ini.

Krisis Kepemimpinan Global                                                                      

Krisis ekonomi, politik, sosial, perubahan cuaca, hanyalah sebagian kecil dari sebuah fenomena gunung es realitas krisis multidimensi yang sangat besar yang tidak terlihat. Bagi saya, salah satu krisis yang sangat memprihatinkan adalah krisis kepemimpinan global. Dunia dengan perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang, membutuhkan figur pemimpin-pemimpin yang tangguh sebagai orang-orang yang mampu memimpin perubahan di abad yang sangat kritis ini.

Namun, fakta membuktikan bahwa, para pemimpin-pemimpin dunia hari inipun seolah-olah kalang kabut, banyak yang kehilangan arah, visi dan kemampuan untuk menjawab tantangan perubahan zaman yang sedemkian kompleks, bahkan yang lebih parah banyak yang tersandung masalah-masalah amoral: skandal seks, skandal korupsi, tertangkap karena narkoba dll. Apa kriteria pemimpin yang mumpuni di zaman seperti ini? Figur seperti apakah yang mampu menjawab tantangan global perubahan zaman hari-hari ini atau esok?

Karakter, Kharisma, Kompetensi

Dalam Kisah Daniel pasal 1:1, tercatat, sebuah narasi yang sangat menarik, dimana pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. Bahkan Tuhan, menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya. Dan perkakas-perkakas itu di bawa ke tanah Sinear, ke dalam perbendaharaan dewanya (ayat 2).

Ini adalah sebuah ironi dan kisah yang sangat tidak mengenakkan bagi kaum pilihan Allah, Israel. Mereka dikepung, dijajah, dijarah, dan dibuang ke tempat pembuangan selama kurang lebih 70 tahun. Sebuah kenyataan pahit yang sungguh di luar dugaan bangsa Israel.

Bagaimana mungkin bangsa pilihan Allah, harus mengalami realitas seperti ini? Diperlakukan tidak adil, dianiaya, dipermalukan? Tidakkah Allah seharusnya di pihak mereka? Menyelamatkan, dan menolong mereka keluar dari kesusahan seperti itu? Agenda apakah yang kira-kira sedang dikerjakan Allah melalui peristiwa krisis yang besar tersebut?

Kisah ini, berlanjut dengan perintah raja kepada Aspenas kepala istananya,untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yaitu orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja…

Mereka adalah Daniel, Sadrakh, Mesach dan Abednego. Mereka kemudian dilatih selama 3 tahun di dalam Nebukadnezar School of Leadership atau Padepokan Nebukadnezar (ayat 3-5) untuk kemudian dipekerjakan oleh raja. Sungguh menarik! Sejarah mencatat, bahwa para pemimpin besar dunia senantiasa lahir dari sebuah krisis yang besar.

John F. Kennedy (presiden ke-35 Amerika Serikat) pernah berkata bahwa ada tafsiran yang begitu menarik dari istilah “krisis”. Ia berkata, “apabila kita menulis kata “krisis” dalam bahasa China, ia terdiri dari dua karakter yaitu wei dan ji. Karakter wei berarti “bahaya” dan ji berarti “kesempatan”.

Dari kisah ini kita belajar bahwa Allah justru memakai situasi krisis multidimensi yang dialami bangsa Israel menjadi sebuah proses penggodokkan untuk menghasilkan para pemimpin generasi masa depan Kerajaan Allah yang mumpuni (tangguh).

Prof. Eddie Gibss dalam bukunya Kepemimpinan Gereja Masa Mendatang (Jakarta, BPK, 2010) memaparkan tiga karakteristik penting bagi para pemimpin masa depan dunia yang sanggup menjawab tantangan zaman yaitu: pemimpin yang memiliki karakter, kharisma, dan kompetensi. Ketiga karakteristik ini adalah kombinasi mutlak yang dibutuhkan oleh para pemimpin masa depan yang akan memimpin perubahan dunia. Para pemimpin sejati justru dilahirkan dari situasi krisis: crisis creates leader.

Bagaimana dengan situasi kita di Indonesia? Apakah hari-hari ini Anda sedang berpikir mengapa bangsa ini tidak segera lepas dari semua problematika yang sangat kompleks? Mengapa kita belum menyaksikan perubahan positif yang signifikan di negara kita ini? Mengapa kita masih seringkali mengalami diskriminasi, penderitaan, bahkan penganiayaan? Mengapa seringkali kita melihat ketidakadilan masih saja terjadi?

Mengapa ada Saudara-saudari kita yang harus mengalami nasib naas menjadi korban peristiwa berdarah: Tragedi Mei 98, kerusuhan Ambon, Poso, ledakan bom Solo? “Stop Tanya Kenapa?!” Mari kita tidak lagi bertanya, mengapa ini semua harus terjadi?, dan berhenti meratapi nasib kita di Indonesia ini.

Prof. Yohanes Surya, Ph.D. dulu adalah seorang anak muda sederhana, namun memiliki mimpi dan visi yang besar walau ia lahir dari keluarga yang miskin. Ia tidak menyalahkan situasi krisis demi krisis yang dialaminya. Namun justru lewat krisis demi krisis yang dilaluinya, ia menemukan banyak peluang-peluang emas yang pada akhirnya menjadikan mimpinya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang menjadi juara dunia Olimpiade Fisika menjadi kenyataan.

Ia telah merubah krisis menjadi kesempatan. Ia telah belajar untuk mengalami tempaan karakter, meningkatkan kharisma kepemimpinan, dan menjadi kompeten di bidangnya: fisika. Ia telah mengubah wajah Indonesia dan dunia.

Barack Obama, dulu adalah seorang pemuda yang berjuang dari bawah, walaupun dia keturunan African American, yang memiliki sejarah panjang menjadi warga negara kelas 2 di dalam sejarah Amerika. Ia seolah menjadi mimpi yang menjadi kenyataan yang diilhami oleh tokoh pejuang persamaan hak Martin Luther King Jr, yang berjuang menegakkan azas persamaan hak.  Obama telah memutar balikkan wajah peradaban dunia dengan mendudukkan diri sebagai the First African American President in American History. Ia berani melewati berbagai krisis dalam hidupnya, Ia adalah salah satu figur seorang pemimpin yang pantas diakui dunia.

Rekan-rekan muda, mari kita bangkit berdiri, dan mulai jeli melihat kesempatan-kesempatan emas apakah yang Tuhan sedang berikan kepada kita lewat setiap krisis yang kita alami? Mungkinkah Dia sedang membentuk karakter kita?, mungkinkah Dia sedang menempa kharisma kita?, mungkinkah Dia sedang melipatgandakan kompetensi kita sebagai calon-calon pemimpin masa depan Indonesia bahkan dunia? Maukah Anda?

Christopher Andios ©

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s