Berserah dan Menyerah

Pertahanan diri paling kuat adalah ego
Kita suka merubah orang lain
Tapi enggan merubah diri

Saat masalah datang menghantam bertubi-tubi
Jati diri manusia yang sejati akan muncul
Menyingkirkan segala topeng, lipstik, dan jubah-jubah perlindungan diri

Status, kepemilikan, kekuasaan, semuanya kita pakai untuk menutupi kelemahan kita
Berani jujurkah kita, mengakui bahwa kita bisa takut, gampang goyah, rapuh. . . ?

Beranikah kita melangkah bila semuanya itu harus dilepaskan?

Ataukah kita masih sering berkilah, “aku pasrah, berserah, namun gak mau menyerah?”
Mengakui kalau kita bisa salah, kalah dan takut bila keliru melangkah?

Manusia pada dasarnya selalu benar dan suka membenarkan diri
Menyalahkan orang, kalau perlu cari hitam, sapi hitam atau mungkin anjing hitam
Semuanya hitam, hanya diri kita yang putih

Apakah kita suka berserah tapi tidak menyerah total? Atau bahkan tidak pernah mau kalah, salah dan senantiasa berkilah?

Ah entahlah, semoga pada akhirnya aku bisa kembali kepada kenyataan bahwa semua bisa saja salah, namun aku harus pasrah, menyerah dan berani berkata, “aku butuh Engkau ya Allah, aku tak sanggup, aku berserah, dan menyerah”

Biarlah kehendakMu yang jadi, bukan kehendakku

Surabaya, 15 Agustus 2014

Andi O. Santoso

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s