Jiwaku Haus Akan-MU?

Procaffeinating

 

Hari Minggu kemarin, kami sekeluarga meluangkan waktu bersama setelah Ibadah Minggu, kami jalan-jalan ke DP Mall, sebuah Mall kecil di tengah kota Semarang. Karena isteri ingin membeli beberapa barang kebutuhan bulanan, maka saya dan anak-anak memilih untuk menikmati waktu bersama dan kami menuju ke sebuah gerai kopi baru Maxx Coffee, yang konon merupakan anak cabang Lippo Group (wah bakalan seru nih perserteruan dengan Starbucks:)).

Singkat, padat, dan to the point, saya langsung memesan kopi Mocca Blended. Ada hal  menarik ketika kami membaca beberapa post card kecil yang tersedia di depan kasir. Sontak saya menanyakan apakah ini free? Dan setelah mendapatkan jawaban, kamipun mengambil beberapa post card untuk koleksi pribadi.

Salah satu tulisan yang cukup menarik di kartu pos tersebut adalah istilah baru yang ditulis, “procaffeinating: yaitu sebuah tendensi untuk tidak memulai kegiatan apapun sebelum kita menikmati secangkir kopi” (Noun). Menarik sekali, dan inilah kebiasaan yang saya pribadi termasuk melakukannya:) Hampir tiap pagi sebelum beraktivitas dan menuju ke kantor, sebisa mungkin saya menyeruput secangkir kopi. Hmmm, ini seperti sebuah tradisi yang nikmat.

Saya teringat slogan “No Bible No Breakfast” yang seringkali diucapkan oleh para Pendeta ataupun orang tua kita. Bahwa sebelum kita menikmati makanan apapun, kita seyogyanya menikmati Firman Tuhan sebagai makanan rohani kita setiap hari. Namun, ternyata kebiasaan ini kian hari kian tergerus oleh, budaya dan kebiasaan lain, yang jujur, salah satunya adalah kopi dan juga gadget. Hampir setiap saat kini, kehidupan kita diwarnai oleh “sesuatu” yang lain yang seolah-olah lebih penting, sesuatu yang dapat “mengisi” kekosongan jiwa kita, ataupun dahaga kita.

Namun bila kita jujur, “dapatkah jiwa dan hati manusia yang diciptakan oleh Allah, dapat diisi dengan hakikat lain selain Allah itu sendiri?” Saya yakin, kita semua sepakat, bahwa, “satu-satunya” Pribadi yang dapat memuaskan jiwa kita adalah Allah itu sendiri, dan bukan semua hal yang bersifat material apapun, termasuk kopi terenak sedunia sekalipun. Jadi teringat tulisan lama saya Can Man Lives Without Coffee?

Sang Pemazmur pernah berkata, “seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” ~ Mazmur 42:1-2.

So, manakah yang lebih kita cari di pagi hari, hadirat Allah lewat Firman-Nya atau kopi?

Semarang, 11 Januari 2016

Andi O. Santoso

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s