Rabu Kelabu

Hari itu, entah bagaimana aku harus membayangkan perasaanku…
Rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sore itu, aku bermain badminton dengan kedua puteriku. Aku bermain dengan Faith, dan kulihat Hope bermain bersama salah satu rekan kerja di halaman kantor kami. Aku melihat keceriaannya bermain badminton walau belum sempurna.
Setelah bermain badminton, aku berinisiatif mengajak kedua puteriku bermain sepeda. Maklum sepeda tua peninggalan nenek moyang ini baru beberapa minggu bisa kunaiki kembali, setelah bertahun-tahun teronggok di garasi.
index
Aku memboncengkan kedua puteriku di sepeda onthel tua buatan Belanda yang kesohor itu. Tidak ada firasat apa-apa, aku bawa mereka berdua berputar-putar di halaman rumah dan kantor kami. Keceriaan mereka, tawa mereka begitu mempesona lubuk hatiku.
Setelah berputar-putar beberapa lama, aku berpikir, alangkah senangnya bila aku bisa membawa mereka sejenak keluar dari kompleks rumah tinggal kami, dan membawa mereka keluar dari pintu gerbang dan melihat lingkungan sekitar tempat tinggal kami. Memang waktu sudah sore menjelang malam, dan aku menyalakan lampu depan dan belakang di sepeda tuaku itu…
Aku berteriak ringan kepada isteriku yang juga sedang lari kecil di halaman. Mom, “aku bawa anak-anak bersepeda keluar sebentar ya!” Ia sudah mengingatkan, “hati-hati ya!” “Ok mommy!” begitu teriakku percaya diri.
Bersepeda adalah salah satu olah raga kegemaranku sewaktu SMA, masih kuingat aku bergiat dengan sepeda gunungku untuk mengikuti beberapa lomba bersepeda di kota tempat tinggalku dulu di bawah kaki gunung Muria. Masih teringat jelas pula, gambaran dan memori kecilku, ketika mendiang ayahku, juga sering membawaku bersepeda dengan sepeda tua yang kini menjadi tungganganku itu…
Alhasil, aku meluncur keluar memboncengkan kedua puteriku Faith dan Hope, berboncengan dengan sepeda Simplex tua itu, kubawa mereka keluar dengan perasaan bangga sebagai seorang bapa yang sayang anak-anaknya, perasaan bangga betapa aku bisa meluangkan waktu yang berkualitas dengan kedua puteri tercintaku…
Meluncur deras, sepeda itu, kukayuh dengan kuat, hingga akhirnya terdengar suara…… “krraaakkkkkkk…..!!!!!” sangat kuat, dan yang terpikir di benakku adalah rantai sepeda tuaku itu pasti terlepas dari geriginya…. Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari arah belakang sepedaku…. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh!!!”
Akupun berhenti dengan seketika, Faith langsung berteriak “daddy!!! Chloe hurts” dan segera kutersadar, ternyata ada darah mengalir deras dari kaki puteri keduaku Hope….
“Kakinya tergores jeruji sepedaku….” Akupun lemas, namun aku tahu aku harus bergegas dan tidak panik. 2
Kupanggul Hope puteri keduaku, dan kupegang erat, tumit kakinya yang berdarah mengalir deras…. Kupanggil seorang tukang becak yang melintas… “pak tolong saya”. Namun karena kebingungan, dia tidak banyak bereaksi, hingga tiba-tiba ada seorang bapak yang berkendara motor dan berhenti, dia segera turun dan berkata, “tenang pak, saya bantu ke Rumah Sakit terdekat”.
Singkat cerita, kutinggalkan sepeda tua itu dan kutitipkan di seorang tukang parkir restoran yang ramai itu… Bapak itu bergegas membawa kami dengan sepeda motornya, di sepanjang jalan aku berdoa dan membisikkan kata-kata iman di telinganya, “Tuhan tolong kami, tolong Hope…”.
Akhirnya kami tiba  di Rumah Sakit tidak jauh dari rumah kami, kami bergegas masuk ke UGD, dan kamipun langsung ditolong oleh dokter-dokter jaga disana. Kurelakan puteri pertamaku Faith harus menunggu di luar ruangan, dan aku memegang erat Hope, yang mengerang kesakitan, menangis hebat, dan mengaduh tak terkira… Aku mencoba menghiburnya, menenangkannya, sementara tangan kananku yang penuh bercak darah mencoba untuk memegang bahunya supaya ia tidak melihat kaki kirinya yang tergores dan terkelupas karena jeruji itu…
Aku mencoba bertahan, kulihat, kedua dokter jaga itu, menyuntikkan jarum penahan rasa sakit, dan dengan segera mereka bekerjasama untuk menghentikan pendarahan dan menjahit luka yang cukup dalam itu. Aku berseru kepada mereka, “pak tolong puteri saya ya!!!”
Kulihat Hope begitu kesakitan, ia menangis hebat, kuajak dia berdoa, dan aku berseru, “Jesus helps Hope, Jesus helps Chloe…” Aku memeluknya lebih erat, dan kemudian aku menelepon isteriku… “kuminta ia bergegas datang menyusul, dan kupastikan ia jangan panik”.
Selepas itu, kupandang erat Hope, kubisikkan kata-kata bahwa Tuhan akan menolong, dan aku besertanya… Sejenak hatiku membayangkan peristiwa Salib dua ribu tahun yang lalu… Di sebuah Bukit Tengkorak, pernah terjadi sebuah peristiwa berdarah, Sang Anak Allah yang mengalami penderitaan fisik, batin yang tak terbayangkan… Aku membayangkan bagaimana perasaan Allah Bapa yang harus melihat dan merasakan Sang Anak itu terpaku di kayu salib… mengerang kesakitan… Itulah sekelumit perasaan yang kurasakan, saat melihat puteri mungilku harus mengalami persitiwa berdarah itu… Aku menjerit, aku mengalami kesakitan yang dialaminya, aku ingin menggantikannnya…
Sore menjelang malam itu, di Rumah Sakit itu… aku diajar banyak, aku belajar banyak… aku harus lebih waspada, aku harus lebih memperhatikan keselamatan puteriku dan keluargaku… Pada saat yang sama aku belajar arti kasih dan penderitaan, aku belajar tentang pemeliharaan Tuhan, dimana ia mengirimkan seorang malaikat: seorang Bapak yang hingga kini akupun belum sempat mengucapkan terima kasihku kepadanya… Aku belajar untuk mendengar kata-kata bijak isteriku. Aku belajar betapa hidup itu begitu rentan… dari sebuah kesenangan kecil Tuhan ijinkan aku mengalami kejadian yang tidak mudah ini, puteri tercintaku mengalami pendarahan di tumit mungilnya…
Malam itu, sesampai kembali di rumah, kami bersehati di dalam doa, kami mengucapkan doa dengan terbata-bata. Puteri pertama kami Faith, tidak lama juga meluapkan emosinya yang tertahan, ia menangisi adiknya… ia juga merasa bertanggung jawab atas peristiwa itu, kami menghiburnya, kami memeluknya, kami katakan “ini bukan salahmu…” Kami berpelukan bersama… kami menanggung peristiwa ini bersama-sama… Akupun melihat ke wajah isterika… dengan perasaan bersalah, “aku katakan maaf ya…” Iapun memelukku… Akupun memeluknya…Tak ada kata lain yang bisa terucap…
Rabu 27 April 2016, menjadi Rabu Kelabu… Kami belajar bahwa di balik peristiwa itu, ada benih-benih kasih yang bersinar, tertanam dalam di hati kami masing-masing. Sebuah peristiwa yang tak bakal kami lupakan, yang memberikan kami sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya. Kami rentan, dan kami membutuhkan satu sama lain, dan kami membutuhkan Tuhan…
3
Sampai detik ini, puteri kami Hope masih harus banyak berbaring, namun Tuhan tak henti-hentinya memberikan sukacita di dalam hatinya, walau ia harus memulihkan rasa traumanya, naik sepeda tua ayahnya… Puteri kami Faith juga masih harus memulihkan diri dari trauma ini, demikian pula isteriku, dan tentu akupun masih harus memulihkan rasa bersalah dan ketidak hati-hatian dan kecerobohanku…
Sebagai akhir, kami berharap sharing ini dapat mengingatkan kami dan rekan-rekan Parents, betapa pentingnya menjaga keselamatan putera puteri kita dalam keadaan apapun: Save Our Family Today (SOFT). Mereka adalah perhiasan terindah kita.
Jewel
Semarang, 29 April 2016
Andi O. Santoso
#TheChiandiosUnited
#TheJourneyofFaith
#TheJourneyofHope
#andiosville

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s