Mimbar dan Tikar

Image result for pulpitKetika aku berdiri di mimbar-mimbar itu…
Aku berasa orang besar, gagah, perkasa, pintar, dan pakar menyampaikan kebenaran
Ketika aku berdiri di belakang mimbar itu…
Aku bagaikan sosok rohani yang paling kudus di antara para pendengar
Ketika aku berdiri di mimbar itu…
Kuolah kata, tutur, dengan beribu makna, supaya orang mendengar dan terkagum benar
Terkadang semua adalah tentang diri, diri dan diri, bukan Sang Firman itu sendiri

Ketika aku duduk di atas tikar itu… Hasil gambar untuk tikar
Aku menjadi sama dengan yang lain
Aku menjadi sadar bahwa aku masih berada di bumi
Dimana ada banyak pergolatan, pergumulan, dan penderitaan
Ketika aku duduk di atas tikar itu…
Terkadang aku tak banyak berkata-kata, aku hanya belajar mendengar
Mendengar kisah para peziarah hidup yang kerap kali gagal, jatuh bangun, untuk memahami hakikat hayat yang sesungguhnya itu

Ketika aku duduk di atas tikar…
Aku banyak belajar, betapa aku masih belum tahu apa-apa, bukan siapa-siapa, dan perlu banyak diajar, bukan mengajar
Belajar dari Sang Firman yang menjadi manusia, bukan untuk berkata-kata tentang Diri-Nya, namun tentang Bapa yang besar dan panjang sabar

Firman yang menjadi manusia itu, turun dari “mimbar” dan menjadi sama, duduk di atas tikar, bersama kita nan penuh dosa.

Sompok Lama, 10 Maret 2017

Andi O. Santoso
@andiosville

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s