Roh Kudus dan Misi

Terbang by Donald Dee

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” ~ Kisah Para Rasul 1: 8

 

Allah yang Terlupakan

Francis Chan dalam bukunya, The Forgotten God, menggambarkan sebuah tragedi dari kehidupan orang-orang percaya yang mengabaikan Roh Kudus sebagai Pribadi yang menyertai kehidupan orang percaya. Tragedi ini dapat kita bayangkan seumpama sebuah pernikahan yang terdiri dari suami dan isteri yang seharusnya saling mencintai, oleh karena kesibukannya masing-masing, lama kelamaan kehilangan waktu bagi satu sama lain, kehilangan intimasi satu sama lain dan pada akhirnya kehilangan relasi satu sama lain. Saling mengabaikan, saling membiarkan. Hidup bersama tapi tidak bersama-sama.

Tragis! Bukankah hal ini juga menjadi tragedi kehidupan kita sebagai orang percaya, bila kita mengabaikan relasi yang intim dengan Allah Roh Kudus dalam kehidupan kita secara pribadi bahkan juga di dalam kehidupan gereja secara umum? Bukankah Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia (Roh Kudus) akan menyertai kita selama-lamanya sebagai Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran, yang akan diam di dalam kita, dan menyertai kita? (Band. Yohanes 14: 16-17). Bayangkanlah bila sepasang suami isteri saling mengabaikan satu sama lain? Bayangkanlah sebuah kehidupan orang percaya ataupun gereja yang mengabaikan Roh Kudus? Adakah kuasa? Adakah kebangunan rohani? Adakah perubahan hidup? Adakah multiplikasi? Adakah kehidupan?

 

Roh Kudus dan Misi: Bagai Dua Sayap Burung Merpati, dan Dua Sisi Mata Pedang

Dapatkah kita berbicara tentang misi tanpa Roh Kudus, ataukah kita berbicara tentang Roh Kudus namun mengabaikan misi? Saya teringat ketika mula-mula belajar tentang misi di Pelatihan Misi Perkantas, pada waktu saya kuliah di Universitas Bina Nusantara, Pdt. Dr. Mangapul Sagala berbicara dengan tegas, “Roh Kudus adalah untuk misi”. Kalimat pendek ini begitu tertancap di hati dan pikiran saya. Saya membayangkan bahwa keberadaan Roh Kudus dan misi adalah seperti burung merpati dengan kedua sayapnya. Saya membayangkan keberadaan Roh Kudus dan misi seperti pedang dengan kedua sisinya yang tajam, atau bahkan seperti mata uang dengan kedua sisinya. Ini sesuatu yang saling berkaitan, tidak bisa dipisahkan, menjadi esensi yang paling mendalam dalam satu kesatuan. Apakah salah berbicara tentang karunia Roh Kudus bagi orang percaya? Apakah tabu berbicara tentang buah Roh Kudus bagi kita? Tidak tentu saja. Namun kita harus kembali ke landasan yang paling fondasional dari keberadaan Roh Kudus, apa sesungguhnya tugas dan peran Roh Kudus bagi orang percaya? Mari kita meneliti lebih jauh teks ini.

 

Diberdayakan oleh Roh Kudus dan Menjadi Saksi Yesus

Apa arti Roh Kudus memberi kita kuasa untuk menjadi saksi Yesus? Bila kita mau berkaca dari pernyataan Yesus sendiri di Kisah Rasul 1: 8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Ada dua pernyataan utama dalam kalimat Yesus menjelang kenaikan-Nya ini:

 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu…” Dalam bahasa aslinya kata kuasa ini berarti dynamis, great power of God (bandingkan Kisah Rasul 4: 33, “dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah”) atau dalam bahasa sederhana seperti dinamo, yang menggerakkan, memampukan, memberdayakan rasul-rasul dengan kuasa yang besar. Kuasa ini akan diberikan kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, yaitu para rasul. Ini mengacu kepada peristiwa Pentakosta, dimana pada akhirnya Roh Kudus tercurah, turun secara ajaib kepada rasul-rasul di Yerusalem yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2.

Peristiwa akbar, agung, maha dahsyat itulah yang dijanjikan oleh Yesus sebelum kenaikan-Nya (bandingkan Lukas 24: 44-49, “Ia berkata kepada mereka: Inilah perkataan-Ku yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tentang Aku di dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: Ada tertulis demikian, Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi”).

Untuk apa Roh Kudus dan kuasa-Nya yang sedemikian besar dan dahsyat diberikan kepada para rasul pada waktu itu? Jelas, logika sederhananya adalah untuk menyertai kehidupan kita, murid-murid Kristus untuk menunaikan tugas dan panggilan yang besar yaitu menjadi saksi Yesus, dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria hingga ujung bumi. Ini sebuah Amanat Agung yang dimulai dari lokal, berdampak global (bandingkan Matius 28: 19-20). Ia berkata, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

“…dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” Arti kata saksi dalam bahasa aslinya adalah martys, a witness: seseorang yang menyampaikan fakta atau kebenaran atau pengetahuan yang ia ketahui, yaitu tentang peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus. Dalam penjelasan lainnya adalah martir, orang yang mengalami penderitaan atau bahkan kematian oleh karena bersaksi tentang Kristus. Inilah makna menjadi saksi bagi Yesus, sebuah tugas, amanat yang tidak mudah, sehingga kuasa Roh Kudus diberikan kepada kita, untuk menyertai kita, di dalam mengemban tugas ini. Oleh sebab itu keberadaan Roh Kudus tidak bisa dilepaskan dari kuasa-Nya yang dinamis, yang maha dahsyat, yang memampukan para rasul untuk menjadi saksi Yesus, dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria hingga ujung bumi. Ketika Roh Kudus dicurahakan, dan para rasul menerima Roh Kudus, pada saat yang sama mereka diberikan kuasa untuk bersaksi, dengan kuasa dan tanda-tanda ajaib. Kisah Para Rasul 2: 32, “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah dan tentang hal itu kamu semua adalah saksi”. Selanjutnya, kisah Stefanus yang dibunuh oleh karena bersaksi tentang Yesus (Kisah Para Rasul 6-7) adalah salah satu martir yang dengan jelas dicatat di dalam sejarah gereja dan bahkan Saulus menjadi saksi hidup dari kematiannya. Stefanus adalah martir mula-mula dalam pergerakkan gereja mula-mula.

 

Apakah Peranan Roh Kudus Dalam Kehidupan Orang Percaya di Sepanjang Masa?

Markus 2: 17-20 memberikan perspektif yang menarik pula tentang kuasa Roh Kudus ini, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit dan orang itu akan sembuh”. Jelas, dari pemahaman kita akan firman Tuhan di atas, bahwa Roh Kudus diberikan kepada setiap orang-orang yang percaya (Anda dan saya) untuk memberdayakan kita, menjadi saksi Kristus yang efektif.

Ia memberikan kuasa dan tanda-tanda kepada rasul-rasul pada masa lalu dan juga kepada setiap orang percaya, di sepanjang gereja mula-mula hingga hari ini: kuasa yang ajaib, tanda-tanda ajaib, karunia dan buah Roh Kudus, hikmat dan strategi, mujizat, ketahanan, kekuatan yang berlimpah-limpah untuk menghadapi penderitaan, penganiayaan, dan kesulitan di dalam pemberitaan Injil tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus itu masih tersedia.

Jikalau kita membaca Kisah Para Rasul secara keseluruhan, kita akan melihat betapa Peranan Pribadi Roh Kudus, Allah yang Terlupakan itulah yang menjadi Subyek Utama di sepanjang Kisah Para Rasul, artinya Kisah Para Rasul adalah Kisah Karya Roh Kudus: Sang Pemberdaya Orang Percaya, Gereja Mula-mula dan Gereja Sepanjang Abad itulah yang berkarya memakai rasul-rasul yang sederhana, orang-orang dari Galilea itu: seperti Petrus, Andreas, Yohanes, Filipus, dlsb, hingga akhirnya rasul Paulus, untuk membawa berita Injil mulai dari Yerusalem, yaitu pada Peristiwa Pentakosta, hingga menyebar ke Yudea, Samaria, hingga ujung bumi.  Petrus, Yohanes dan rasul-rasul adalah orang biasa yang tidak terpelajar (Kisah Para Rasul 4: 13), Stefanus adalah Diaken, Filipus adalah Diaken, Priskila dan Akhwila adalah pengusaha kain, dan semua tokoh-tokoh yang dicatat di dalam Kisah Para Rasul adalah orang-orang biasa, yang dipakai secara luar biasa oleh Allah: menjadi saksi kematian dan kebangkitan Yesus dari Nazaret itu.

Bila kita membaca bagian akhir dari Kisah Para Rasul 27:  20-23 ketika pada akhirnya Paulus berjumpa dengan raja Agripa, sebelum perjalanan Paulus di Roma yang nantinya menjadi tempat akhir dari perjuangannya, ia bersaksi demikian, “tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu. Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku. Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mait, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain”.

Paulus terlibat di dalam karya besar Allah menjadi Saksi Yesus, sejak perjumpaannya di jalan menuju Damsyik itu, hingga akhirnya ia dipakai Roh Kudus, memberitakan Injil mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan ujung bumi, baik kepada orang-orang kecil maupun orang-orang besar, Injil diberitakan untuk semua kalangan. Roh Kudus adalah Pribadi yang mentransformasi seorang Saulus, sang penganiaya jemaat Tuhan itu menjadi Rasul bagi bangsa-bangsa lain. Siapakah Pribadi yang sanggup merubah kehidupannya 180⁰? Kuasa apakah yang memampukannya melakukan karya global Allah dimulai dari konteks lokalnya?

Gordon D. Fee mengambarkan pernyataan yang luar biasa, “jika gereja ingin menjadi efektif di dalam dunia kita yang pasca modern ini, kita harus berhenti untuk bermulut manis dan menganggap remeh Roh Kudus dan menangkap ulang perspektif Rasul Paulus: bahwa Roh Kudus sebagai Pribadi yang berpengalaman, yang memberdayakan kembalinya kehadiran Allah sendiri di dalam dan di antara kita, yang memampukan kita untuk hidup sebagai umat eskatologis yang radikal di dunia saat ini, sementara kita menantikan masa yang sempurna itu tiba. Semuanya tidak terkecuali, termasuk karunia-karunia dan buah Roh (adalah hidup yang etis dan karismatis yang utama di dalam penyembahan), Ia mengawal perjalanan semuanya ini sampai akhir” (Paul, the Spirit and the People of God, hlm. xv). Inilah Pribadi Roh Kudus, Pribadi Allah yang Memberdayakan Setiap Orang Percaya, juga Gereja-Nya di sepanjang masa, Roh yang Berpengalaman, yang memampukan kita untuk hidup sebagai umat eskatologis yang radikal.


Menjadi Gereja yang Bergerak, Membawa Damai

Apakah karya Roh Kudus dan kuasa-Nya yang ajaib masih bekerja diantara kehidupan kita orang percaya masa kini, di GGKMI? Apakah kisah-kisah tentang Karya Roh Kudus yang ajaib masih berlaku? Tentu saja! Sejarah gereja di sepanjang abad mencatat kisah-kisah Roh Kudus yang bekerja diantara orang-orang biasa, seperti Anda dan saya, untuk menjadi saksi Kristus dengan efektif sampai kedatangan-Nya yang kedua kali tiba. Roh Kudus, Roh yang sama yang bekerja di antara pendiri GKMI: Alm. Tee Siem Tat, kong Gombak Sugeng, para tokoh-tokoh pendiri GGKMI di berbagai tempat, juga tentu tidak kalah bekerja di hati Alm. Pdt. Herman Tan, Alm. Pdt. Teofilus, Pdt. Alm. Andreas Setiawan, ketika mereka merenungkan Firman Tuhan yang sama, untuk membawa Injil keluar dari “Yerusalem”, keluar dari kotak-kotak geografis, suku, dlsb.

Dengan kuasa Roh Kudus yang dahsyat itu, mereka, para pendiri GGKMI berani meninggalkan zona nyaman, pergi ke tempat-tempat lain dimana banyak orang belum mendengar Injil, mereka bersaksi kepada keluarga-keluarga mereka di luar kota, ke desa lain, kepada kolega mereka, tetangga mereka dlsb. Bagaimana kita melihat karya Roh Kudus di GGKMI hari ini, ya hari ini, di usia 95 tahun ini? Masihkah kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk berkarya memakai setiap kita menjadi saksi-Nya yang efektif, dimana saja, kapan saja, kepada siapa Ia memimpin kita? Atau malah kita telah melupakan-Nya, tidak memberi ruang bagi-Nya? Mari kita jujur di hadapan-Nya!

Maukah kita mengijinkan Roh Kudus bekerja di dalam hati dan hidup kita? Maukah kita tidak mengabaikan suara-Nya yang lembut, yang mungkin mengingatkan kita untuk pergi dan melangkahkan kaki kita untuk berdoa bagi keluarga kita yang sakit dan belum mengenal-Nya, atau mendatangi rekan kerja kita yang sedang mencari jalan keluar akan permasalahan hidupnya? Atau menjumpai tetangga kita yang sedang mencari kebenaran yang sejati? Atau beranikah kita menjawab panggilan Tuhan untuk mengabdikan diri kita menjadi guru di pelosok pedalaman Indonesia, atau menjadi misionaris di pulau lain, di negara lain? atau melayani di Cabang-cabang PIPKA yang ada di berbagai tempat, untuk menjadi saksi Yesus yang efektif di zaman ini? Ini bukan hanya tugas PIPKA, ini bukan hanya tugas Komisi PI dan Misi. Bersaksi tentang Yesus, adalah panggilan bagi setiap orang percaya, ya, Anda dan saya, yang mengaku menjadi murid-murid-Nya tanpa terkecuali!

Peter Wagner, menyebutkan sebuah definisi baru tentang gereja: gereja inti dan gereja yang menyebar. Gereja inti adalah sekumpulan orang percaya yang beribadah setiap hari Minggu selama 2 jam dalam satu minggu, ini adalah gereja sebagai sebuah organisasi atau komunal. Sedangkan gereja yang menyebar adalah The Marketplace Church, Gereja Dunia Pasar, Gereja 24/7, atau Mobile Church di dalam kehidupan nyata: dari Senin hingga Minggu, dimanapun, kapanpun, oleh siapapun, ya Anda dan saya, siapapun orangnya, ini adalah gereja sebagai organisme yang bergerak, secara personal.

Kita semua harus menjadi agen-agen transformator: bersaksi tentang Yesus Sang Nazaret yang telah mati dan bangkit itu, dimulai dari keluarga kita masing-masing, Injil diberitakan di kantor-kantor kita, Injil diceritakan di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di rumah sakit, di komunitas RT/RW kita, Injil diberitakan di social media kita, Injil disebarkan di percakapan-percakapan pribadi via telepon, Whatsupp, Blackberry, dlsb, bahkan di gerai-gerai Excellso, Starbucks, atau kedai Angringan seberang rumah kita.

Mari kita terus mewartakan kemuliaan Allah yang agung itu, secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan kita, melalui Buah-buah Roh-Nya: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, yang menjelma dalam keseharian kita, dimana tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Mari kita terus giat menghadirkan kerajaan Allah, di bumi seperti di surga, secara holistik, secara menyeluruh, secara kreatif. Roh Kudus adalah Pribadi yang akan menyertai kita sampai akhir. Ia akan menolong kita sampai seluruh bumi ini mengenal Allah Sang Pendamai, di dalam Kristus Yesus Tuhan kita.  Ayo! GKMI Bergerak, bersama Roh Kudus, membawa damai ke seantero bumi!

Andi O. Santoso

(telah dipublikasikan di Majalah Berita GKMI, edisi Mei 2016)

Credit Picture by Donald Dee