2 Miles Businessmen

“God cares about honesty in the workplace; your business is his business.” Proverbs 16:11 ~ The Message

 

Apakah yang ada di benak kita bila melihat daftar 5 orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes 2014 berikut ini? Orang Terkaya di Dunia 2014:

  1. Bill Gates
    Jumlah kekayaan yang dimiliki sebesar –> US$76 miliar (Sumber pundi-pundi kekayaan –> Microsoft)
  2. Carlos Slim Helu
    Jumlah kekayaan yang dimiliki sebesar –> US$72 miliar (Sumber pundi-pundi kekayaan –> Bisnis telekomunikasi)
  3. Amancio Ortega
    Jumlah kekayaan yang dimiliki sebesar –> US$64 miliar (Sumber pundi-pundi kekayaan –> Bisnis ritel)
  4. Warren Buffett
    Jumlah kekayaan yang dimiliki sebesar –> US$58,2 miliar (Sumber pundi-pundi kekayaan –> Berkshire Hathaway)
  5. Larry Ellison
    Jumlah kekayaan yang dimiliki sebesar –> US$48 miliar (Sumber pundi-pundi kekayaan –> Oracle)[i]

Ini adalah sebuah pencapaian yang WOW!!!, bagi banyak orang. Pertanyaan selanjutnya adalah, “bagaimana mereka dapat menjadi usahawan seperti itu?” atau “apa rahasia kesuksesan mereka?” Tentu ini pertanyaan yang menarik bagi kita, untuk bisa belajar memahami “path” peta sukses mereka. Namun sesungguhnya pertanyaan yang lebih mendasar yang bisa kita refleksikan sebagai Pengikut Kristus di dalam memahami rahasia bisnis Kristiani, adalah , “sejauh mana bisnis kita membawa kemuliaan bagi Tuhan?” dan “apakah bisnis dan kesuksesan kita membawa dampak bagi sesama?”

Tentu ini bukan bicara berapa banyak dana pajak yang kita bayarkan ke pemerintah, atau Coorporate Social Responsibilities yang kita salurkan, atau berapa banyak donasi atau persembahan yang kita berikan kepada Tuhan dalam bentuk perpuluhan dll, namun sejauh mana kekayaan yang dipercayakan kepada kita, termasuk semua bisnis, pekerjaan kita dapat kita kembalikan kepada perspektif yang benar, yang memuliakan Allah dan membawa dampak bagi sesama? Artikel ini menawarkan sebuah gagasan bagaimana menjadi Pebisnis dan Usahawan yang Beyond the Limit yaitu Pengusaha 2 Mil. Apakah nilai-nilai Usahawan/wati yang Berkarakter 2 Mil?

  1. Allah adalah Pemegang Saham Tertinggi Hidup dan Bisnis Kita

Berbicara tentang bisnis, kita sering kali berpikir tentang Siapa memiliki siapa? Kita sering mendengar istilah “kerajaan bisnis si-A”, “si-B adalah pengusaha papan atas, penguasa negeri A atau B dll”. Namun sesungguhnya Siapakah Penguasa Tertinggi Kehidupan? Siapakah Penguasa laut, alam semesta dan isinya, yang dapat kita nikmati, kelola bahkan gunakan sebagai daya peraup keuntungan bisnis seantero dunia ini? Sumber-sumber alam migas non migas, hutan yang bermilyar hektar tersebar dari seluruh penjuru dunia, kekayaan laut yang maha luas. Siapakah Pemilik dari semuanya itu? Tentu kita harus kembali kepada kesadaran bahwa Allah-lah Pemilik, Penguasa Tunggal Kehidupan, dengan semua kekayaan alam, yang telah diciptakan dengan TanganNya sendiri, dimulai dari Firdaus, dimana Ia memberikan wewenang, otoritas untuk memberdayakan semua kekayaan alam, dunia dan segala isinya kepada Anda dan saya. Kejadian 1: 28, “Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka, ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi’”. Banyak orang menyalahartikan bahwa penggunaan kata taklukanlah dan berkuasalah, sebagai arti bahkan kita boleh mengeksploitasi atau bahkan “memperkosa” bumi dan segala isinya demi kepentingan kita tanpa batas. Kita perlu mengkaitkan konteks ayat ini dengan bagian lain di dalam Kejadian 2: 15, “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Tuhan menempatkan kita (manusia), di dalam taman Eden, supaya kita dapat mengusahakan (to work) dan menjaganya (to keep) bumi dan segala isinya dengan kebebasan yang terbatas, karena di taman itu, ada satu pohon pengetahuan yang baik dan jahat yang tidak boleh disentuh. Allah sejatinya adalah Pemberi Otoritas, Penguasa Tertinggi, Pemegang Saham Tertinggi, dan kita hanyalah Diakonos, Penatalayan, Manajer atau Servant Leader.

Semua karya bisnis, dan usaha kita dalam mengelola, memproduksi, menciptakan keuntungan adalah bisnis-Nya, semua adalah kepunyaanNya dan kita hanya mengelola kepercayaan dari Allah selaku Pemegang Saham Tertinggi Hidup dan Bisnis kita. Pada akhirnya semua harus kita pertanggungjawabkan kepada Allah, segala yang kita lakukan di bawah kolong langit ini, yang adalah kepunyaanNya. Kisah Yusuf Sang Penatalayan Sejati dan Perumpamaan tentang Talenta, dimana hamba yang baik dan setia adalah hamba yang bisa melipatgandakan talenta yang dipercayakan kepada mereka, adalah teladan bagaimana seharusnya kita memandang Allah dan bisnis kita, ya kita hanyalah Pengelola, Allah adalah Pemilik Segalanya.

  1. Segala Sesuatu Ada Waktunya

Ada sebuah kalimat bijak yang berkata, “only when the last tree has died and the last river been poisoned and the last fish been caught will we realise we cannot eat money”. Kita suka dengan istilah “expired date” ketika membeli barang-barang tertentu, dan semua produk makanan, dan produk yang bisa dikonsumsi dalam bentuk apapun harus mencantumkan expired date-nya. Ini menunjukan sebuah realitas bahwa segala sesuatu ada masa berlakunya, segala sesuatu ada masa habisnya, tidak ada lagi yang bisa dikonsumi dan harus berhenti. Bayangkanlah bumi dan segala isinya yang telah dipercayakan Tuhan bagi kita untuk kita kelola, tentu juga suatu saat semuanya habis, bila kita konsumsi terus-menerus tanpa henti. Pernahkah kita berpikir bagaimana jadinya bila suatu saat, semua sumber kekayaan alam di muka bumi ini habis, dan tidak ada lagi yang tersisa? Apakah yang akan kita konsumsi, apakah yang masih bisa kita makan? Uangkah? Emas kita kah? Atau mobil dan semua kekayaan materi kita? Bagaimana masa depan anak cucu kita? Generasi masa depan umat manusia?

 

Mari kita renungkan sejenak kata-kata bijak dari Solaiman, bahwa “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkotbah 3:1). Bila kita kaitkan dengan segala sesuatu yang kita kerjakan di muka bumi termasuk bisnis dan usaha kita, maka segalanya tentu suatu saat akan berakhir, “apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkotbah 3:10-11).

 

Apakah prinsip-prinsip praktis yang bisa kita lakukan? Mari berpikir bahwa selama kita menjalani bisnis dan usaha kita, kita memikirkan aspek kekekalan yang harus kita letakkan sebagai landasan dalam melakukan segala sesuatu, dan menyertakan Allah di dalam setiap musim kehidupan, di dalam semua perencanaan bisnis kita, belajar memahami Kairos Allah, di dalam dunia usaha. Mengambil keputusan yang bijak, di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat.

  1. Bisnis yang Memberdayakan SDM dengan Prinsip Keadilan Sosial

Salah satu tantangan terbesar dalam dunia bisnis adalah bagaimana kita mengelola Sumber Daya Manusia (SDM). Dunia usaha yang dibarengi dengan industrialisasi di segala bidang, mau tidak mau mengalami pergumulan di dalam penggunaan SDM di semua sektor dunia usaha. Pabrik-pabrik berisikan karyawan, bahkan pekerja-pekerja harian yang semuanya membutuhkan jaminan hak dan kewajiban termasuk pemberlakuan Upah Minimum Regional yang diatur oleh Pemerintah dan harus ditaati oleh Semua Perusahaan. Dinamika memperjuangkan hak-hak pekerja dan karyawan perusahaan adalah sebuah geliat yang mewarnai tarik ulur kepentingan Pengusaha untuk menjaga efektivitas anggaran belanja dan realita kehidupan sosial dan ekonomi kelas pekerja, dimana mereka berjuang untuk mendapatkan upah harian, mingguan ataupun bulanan untuk menunjang hidup keluarga mereka. Bagaimana kita sebagai Usahawan/wati Kristiani juga memperjuangkan terwujudnya keadilan sosial, ekonomi dan kesejahteraan karyawan, atau para pekerja di lingkungan perusahaan kita? Apakah kita sudah menerapkan Upah Minimum Regional yang jujur dan transparan? Bagaimana dengan tunjangan cuti hamil, tunjangan hari tua, maupun tunjangan kesehatan ataupun perumahan?

Tentu hal ini harus digumuli dalam perspektif Alkitabiah bahwa Allah menciptakan manusia untuk bekerja dan mengelola Sumber Daya Alam yang Allah percayakan kepada kita, dan karena kedudukan kita sebagai sesama manusia adalah setara, tidak peduli Anda adalah Direktur, Manager dll, hendaknya kita tetap memandang bahwa rekan-rekan pekerja kita, sekalipun mereka adalah pekerja harian, adalah insan yang diciptakan Allah sesuai gambar dan rupa Allah, dengan demikian, siapapun mereka adalah rekan sekerja yang harus kita hargai. Bagaimana kita memberlakukan karyawan kita sehari-hari? Bagaimana kita selaku Direktur Perusahaan di tempat kita kerja, mempedulikan kesejahteraan karyawan kita? Mari menjadi Usahawan/wati yang membebaskan orang dari ikatan dan belenggu kemiskinan, kemalasan, dan keterbelakangan, dan justru menjadi Agen-agen Pendidik Tenaga Kerja dari tidak bisa apa-apa menjadi bisa apa saja. Mari mengembangkan potensi rekan-rekan kerja kita, dari belum berpengalaman kerja, menjadi memiliki ketrampilan kerja yang membangun kehidupan, bahkan keluarganya, mengangkat mereka dari tidak berdaya, menjadi insan yang berdaya guna, bagi kemuliaanNya. Inilah bisnis yang memanusiakan manusia.

  1. Bisnis yang Mengembangkan Kesinambungan Lokal (Local Sustainability)

Salah satu tantangan pengembangan dunia usaha masa kini adalah bagaimana kita memikirkan bisnis yang mengembangkan kesinambungan lokal atau dalam pengertian sederhana adalah bagaimana kita “memenuhi kebutuhan hari ini, tanpa mengkompromasikan kemampuan dari generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (meeting the needs today without compromising the ability of future generations to meet their own needs). Atau dalam perspektif Richard Douthwaite: “menghasilkan sistem yang dapat bertahan lama hingga ratusan tahun, tanpa perlu perubahan, kecuali orang-orang pada waktu itu memutuskan untuk merubahnya” (systems which could exist for hundreds of years and would not have to be changed, unless people decided to change them).[ii]

Apakah perbedaan yang nyata dari para Pebisnis Kristiani dengan Pebisnis lainnya, jikalau kita tidak memiliki perbedaan di dalam cara pandang (world view) kita terhadap dunia dan segala isinya? Penulis pernah mengunjungi sebuah lokasi pertambangan Batu Bara di Samarinda, dan terkejut dengan adanya bekas pohon-pohon berdiameter hampir 1,5 meter yang sudah tidak ada lagi bekasnya. Lalu Penulis sempat bertanya kepada salah seorang penduduk lokal, dimana kayu-kayu dan hutan-hutan ini semua? Mengapa hutan ini jadi gundul? Penduduk tersebut berkata, bahwa pembabatan hutan telah berlangsung puluhan tahun yang lalu, semenjak zaman Presiden Soeharto, dimana lewat orang kepercayaannya, mereka membabi buta membabat lahan hutan untuk diperjual belikan. Sungguh tragis. Penulis bertanya sekilas kepada penduduk tersebut, “bagaimana nanti anak cucu kalian bertahan hidup dengan kondisi tanah yang seperti ini?” Ia terdiam dan tak bisa menjawab.

Kesadaran akan perlunya sebuah penyadaran akan perlunya memikirkan masa depan anak cucu kita, di dalam kita mengembangkan bisnis yang membawa kemuliaan Allah dan membawa dampak bagi orang lain, adalah, “bagaimana kita bisa menciptakan bisnis yang ramah lingkungan, bisnis yang recycle, bisnis yang menggunakan bahan bekas, maupun bisnis yang menghasilkan formula-formula kreatif baru, sebagai pengganti Sumber Daya Alam yang tidak bisa diproduksi ulang?” Bersyukur di Surabaya Penulis mengenal seorang Usahawati yang bersama suaminya, beberapa tahun yl, menemukan sebuah bisnis yang menghasilkan produk pengganti kayu. Ia dan suaminya menemukan sebuah teknologi baru, dimana perusahaan mereka, memproduksi material pengganti kayu untuk kusen, pintu dll, yang sangat kreatif dan ramah lingkungan. Mereka adalah sebuah teladan, bagaimana menjadi Pengusaha Kristiani yang berbawasan lingkungan dan memikirkan kesinambungan lokal. Bagaimana dengan kita?

 

  1. Berani Berjalan Dua Mil

Yesus Kristus, Allah yang menjadi manusia, telah mengajarkan sebuah gaya hidup yang lain, “berjalan di dalam jalan kemuridanNya yang radikal”, bahkan terkesan ekstrim, namun Ia memberikan kepada kita, jalan yang penuh kedamaian dan kebenaran. Salah satu ajaranNya termaktub di dalam Kotbah di Bukit yaitu Matius 5: 41-42, “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil, berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Ayat-ayat ini terkesan sangat radikal, dan bagi sebagian kita, mungkin lebih tepat menafsirkan ayat ini sebagai tantangan bagi rakyat jelata, golongan pekerja yang seringkali tersisih, kaum papa, yang di dalam perjuangan mereka untuk eksis, sering berhadapan dengan kelas para penjajah Romawi.

Ajaran Yesus ini begitu membakar semangat mereka, bahwa sebagai golongan pekerja, orang-orang yang mau hidup di dalam nilai-nilai Kerajaan Allah harus berani memberi lebih dari yang mereka harus lakukan. Yesus mengajar bila mereka bertemu seorang perwira untuk menemani mereka berjalan satu mil, Yesus menantang mereka untuk memberi lebih dari batas yang seharusnya mereka lakukan yaitu berjalan dua mil. Bagaimana bila ayat-ayat kita kita refleksikan sebagai Usahawan/wati Kristiani Pengikut Kristus yang berani hidup di dalam nilai-nilai KerajaanNya yang berbeda dengan dunia ini? Beranikah kita juga memberi lebih dari batas-batas kita yang hanya mencari keuntungan lebih? Beranikah kita berpikir extra ordinary, dimana kita berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang yang bekerja dengan kita, karyawan kita dari kehidupan yang ada di bawah garis kemiskinan, menjadi orang-orang yang berdaya, berdikari, dan bahkan memberkati orang-orang di sekelilingnya?

Penulis terkagum dengan kesaksian Bp. Andrian seorang Usahawan Kristiani yang menjadi sebuah distributor tinta Canon di Surabaya. Ketika krisis ekonomi 1998 terjadi, di pertengahan tahun, ia sudah memperdiksi bahwa di akhir tahun nanti, kemungkinan besar, perusahaannya akan ambruk mengingat harga dollar begitu melejit. Dan ia memanggil para karyawannya, dan memberi tahu krisis yang mungkin menimpa perusahaannya. Ia mempersilahkan karyawannya untuk mencari pekerjaan yang lain bila memungkinkan, mengingat tentu mereka semua punya keluarga dll. Namun anehnya tidak ada seorangpun yang mengundurkan diri. Singkat cerita, tahun 1998, secara ajaib, perusahaan Bp. Andrian justru bertahan, dan kompetitornya gulung tikar. Di akhir tahun, ia mengumpulkan kembali karyawannya, dan ia memberi tahu bahwa perusahaannya ternyata selamat dari badai krisis, dan tahun itu juga perusahaannya justru mengalami keuntungan 4 kali lipat laba akhir tahunnya. Dan Bp. Andrian, mengucapkan terima kasih atas semua dedikasi karyawan/watinya, sembari berkata, “saya bangga boleh bekerjasama dengan rekan-rekan semua, dan di akhir tahun ini juga, saya ingin memberikan Tunjangan Hari Raya Natal, dan Akhir Tahun 4 kali lipat untuk kalian semua, semoga diterima dengan baik.” Bagi Penulis, Bp. Andrian telah mempraktekkan imannya, menjadi seorang Usahawan Kristiani yang memuliakan Allah dan membawa dampak bagi sesama, Ia telah mempraktekkan bagaimana menjadi Usahawan yang berani berjalan dua mil, bagaimana dengan kita?

Sompok Lama,

Andi O.S.

[i] http://www.likethisya.com/orang-terkaya-di-dunia-2014.html

[ii] http://www.feasta.org/2002/10/22/local-sustainability-the-problems-practicalities-and-possibilities/